X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Anshori Djausal: Bukan Pahawang Tapi Puhawang

  • dibaca 1195 kali

    DL/05102016/Bandarlampung

    ----- Popularitas destinasi wisata pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran belakangan sangat fenomenal. Melalui media social sepertinya destinasi yang satu ini sangat seksi dan memberikan kesan istimewa kondisi alamnya terutama bawah lautnya.

    Namun ternyata ada sedikit kekeliruan penyebutan nama pulau yang kini sedang dibimbing menuju destinasi wisata yang ideal, melalui berbagai konservasi.

    Pulau ini seharusnya bernama Puhawang. “Saya tidak mengerti siapa yang memulai menyebut pulau ini jadi Pahawang. Sebab nama Puhawang itu ada runtut sejarahnya. Tapi saya agak lupa. Duapuluh lima tahun lalu, saya sudah berada di sana. Saat itu belum ada apa-apanya, tapi memang indah alamnya.” Kata Anshori Djausal, dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diprakarsai Forum CSR Lampung (FCL), Selasa 4 Oktober 2016 di Hotel Sheraton.

    Anshori mengatakan bahwa harusnya ada yang bisa meluruskan nama ini agar tidak melenceng dari keasliannya. “Tapi saya juga merasa kesulitan, bagaimana memulainya. Pohawang itu nama orang, yang ada hubungannya dengan pulau itu. Tapi maaf saya lupa cerita persisnya. Yang jelas itu bukan Pahawang, tapi Puhawang,” tegasnya.

    Dua puluh tahun lalu, dan hingga saat ini, situasi penduduk pulau Puhawang memang sangat memprihatinkan. Dalam dunia pendidikan, anak-anak di sana tidak lebih dari kelas 4 SD sekolahnya. “Yang jelas di sana sangat memerlukan penangangan kesehatan yang ekstra. Pulau ini endemis Malaria. Dan beberapa hal lain. Apalagi sekarang penduduknya sudah cukup banyak.” Katanya.

    Untuk itu, dalam kesempatan FGD ini, Anshori mengajak para pengusaha dan perusahaan yang tergabung dalam FCL berbuat konkrit untuk Puhawang.

    Ada dua agenda yakni pendidikan dan kesehatan yang harus mendapatkan perhatian khusus. “Kalau penduduk di sana dipersiapkan dengan pendidikan yang baik dan diberikan pelayanan kesehatan yang baik, saya rasa daerah itu potensial sebagai destinasi ideal pariwisata kita. Tapi sekarang belum,” katanya.

    Ini mendapatkan tanggapan dari Dinas Kesehatan Pesawaran yang hadir dalam FGD tersebut, dengan menginformasikan bahwa PT CPB sudah memberikan kepastian untuk membatu melakukan fogging di daerah Pohawang secara berkala.

    Ini dimungkinkan bahwa daerah endemis ini akan bisa dijadikan daerah bebas nyamuk dengan upaya yang serius dan tak kenal lelah. Seperti diketahui PT CPB punya pengalaman menangani tambak udang yang dulu juga merupakan endemis nyamuk, namun saat ini sudah clear.

    FGD yang digagas sederhana oleh DR Saptarini cs dalam FCL ini akhirnya menjadi media menyatukan pendapat dan menyepakati program nyata dalam memberikan uluran tangan kepada daerah-daerah tertentu yang perlu diasistensi. Puhawang menjadi pilot project dalam mengembangkan destinasi pariwisata Lampung.

    Acara ini juga dihadiri Bupati Pesawaran Dendi Romadhona, anggota DPRD, beberapa professional, dan perusahaan yang tergabung dalam FCL Lampung, memenuhi ruang meeting Hotel Sheraton. Diskusi berlangsung kurang lebih 3 Jam. (adi)

  • Berita Terkait

  • RTRW Lampung Perlu Direvisi

    Polantas Siap Ciptakan Kotabumi Tertib Helm

    Lomba Kesrak PKK-KB Kota Metro

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar