Bayar Dulu Rp18 Juta, Baru Bisa Operasi

22 Juni 2016 - 05:48:12 | 1126 | KESEHATAN

DL/22062016/Bandar Lampung

---- Rakyat Indonesia tidak boleh sakit. Karena sakit itu sangat mahal. Ini masih tetap ada di negeri yang mempunyai banyak program kesehatan, mulai dari Kartu Indonesia Sehat dan BPJS ini.

Masalah demi masalah para pasien Indonesia tidak kunjung berhenti, ditingkahi sikap dan prinsip bisnis di Rumah Sakit yang lebih mendahulukan uang daripada pelayanan kesehatannya.

Seperti yang terjadi di RSU Urip Sumoharjo Bandarlampung. Seorang pasien dengan status sebagai anggota BPJS, tetap saja diharuskan mencari uang jaminan dulu saat ingin melakukan operasi.

Tidak sedikit pula uang yang diminta pihak RSU Urip Sumoharjo, Rp18 juta. Dalihnya sebagai jaminan.

“Pihak rumah sakit meminta saya untuk bayar dulu Rp18 juta sebagai jaminan, agar tindakan operasi dapat dilakukan. dengan cari pinjaman saya dapatkan dana," ujar Suwandi Sihotang, ayah Riama Sihotang (2,8) pasien yang dirawat.

Dengan harapan, kata dia, kemungkinan dana itu nanti akan dapat diklaim ke pihak PBJS. Tapi pada kenyataannya, saat Riama diperbolehkan pulang. Pihak rumah sakit memberikan total tagihan sebesar Rp42.155.338.

Dari total tagihan tersebut ternyata yang ditanggung BPJS hanya sebesar Rp16.487.600. “Jadi saya harus mencari dana sebesar Rp8 juta lagi untuk bisa membawa anak saya pulang,” ujarnya.

Nasi sudah menjadi bubur. Selalu ada celah untuk menyalahkan rakyat, dan pasien dari peserta BPJS Mandiri pun tetap menjadi korban, kesimpang siuran seperti ini.

Naik Kelas

Awal persoalannya ternyata di sini. Saat Riama sampai di RS Urip Sumoharjo, dengan status pasien yang masuk di BPJS kelas satu disarankan dokter untuk pindah kelas yakni kelas pratama.

Bukan hanya itu saja, keluarga pasien disuruh mencari dana uang sebesar Rp18 juta sebagai dana titipan agar pasien dapat diambil tindakan operasi.
Tapi dengan pengetahuan yang ada, Suwandi dan keluarga mengikuti saja saran dokter untuk pindah ke kelas Pratama, bahkan untuk mencari uang jaminannya.

Situasi ini kahirnya dikonsultasikan ke BPJS Mandiri oleh keluarga diwakili Alam, mencoba menanyakan ke pihak BPJS, melalui Sofyeni, Kepala BPJS. Jawabanya mengejutkan, bahwa yang ditanggung pihak BPJS sudah sesuai ketentuan.

Bahkan terkait besaran dana yang cukup fantastis yang ditanggung pasien, menurut keteranganya, karena pasien naik kelas dari BPJS kelas 1 naik ke Pratama. “Jika peserta mengikuti ketentuan dan sesuai haknya, maka tidak akan ada iuran biaya. “ katanya.

Namun hasil kordinasi dengan pihak rumah sakit, sebenarnya pihak rumah sakit menginformasikan, jika naik kelas memang ada selisih biaya. Dan dalam kasus ini perpindahan itu ditandatangani pihak keluarga pasien. “Akan tetapi terkait pihak dokter yang meminta naik ruangan, kami sudah teruskan ke managemen rumah sakit," ujar Sofyeni.

Pihak BPJS juga menyatakan bahwa tidak dibenarkan jika pihak rumah sakit meminta uang jaminan dulu, sehingga penanganan perobatan baru dilakukan. “Enggak boleh pakai uang jaminan. Itu pihak rumah sakit akan kita tegur,” kata Edi Wiyono Kepala Unit MK dan UPMP4 BPJS Cabang Bandarlampung.

Saat ditanyakan, kepada Sofyeni, apakah menjamin bahwa petugas BPJS di rumah sakit bertugas secara profesional, dan tidak bekerjasama dengan pihak rumah sakit. Sebab ada indikasi setiap pasien BPJS masuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, seringkali dikatakan tidak ada ruangan atau penuh. Karena hal seperti itu banyak dikeluhkan keluarga pasien pengguna BPJS mandiri.

“Kalau petugas kami, ya kami jamin tidak ada permainan sepeti itu. Maka selain bertanya ke pihak BPJS, kita juga berharap keluarga pasien bisa mengecek ke ruangan. Apalagi jika pihak rumah sakit mengatakan ruangan penuh dan harus naik kelas. Sehingga persoalan seperti ini tidak lagi terjadi,” ujarnya.

Masalah kesehatannya adalah Riama Sihotang, anak kandung Suwandi Sihotang dan Eni Sinaga, menjalani perobatan operasi Anus dan Kelamin yang sejak lahir tidak memiliki Anus dan kelamin secara normal, sehingga untuk pembuangan, sejak bayi Riama sudah dioperasi di bagian perut sebelah kananya.

Dalam perjalanannya, Riama mengalami persoalan di saluran pembuangan hasil operasi, sehingga harus dilakukan operasi pembentukan Anus dan sekaligus kelaminnya di RSU Urip Sumoharjo.

Lalu bagaimana penyelesaiannya, seperti mencari mana yang lebih dulu telur atau ayam. Selalu berputar dan semua dianggap benar, dan pasienlah yang selalu salah.

Keluarga pasien meminta hal ini dapat diselesaikan dengan benar dan akan terus berupaya mencari keadilan. (zai)