Muhibah Budaya Yogyakarta – Lampung Gelar Wayangan

12 April 2016 - 11:13:27 | 1491 | HIBURAN

DL/11042016/Bandarlampung

----- Dalam peringatan hari jadi provinsi Lampung ke-52 memang beragam acara telah digelar sepanjang bulan Maret 2016. Namun berbagai rangkaiannya masih terus berlangsung hingga saat ini, termasuk menggandengkan dengan muhibah budaya dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Muhibah budaya Yogyakarta dan Lampung ini digelar dalam bentuk kesenian budaya Indonesia, Wayang Kulit semalam suntuk yang akan menampilkan tiga dalang sekaligus dari kota Gudeg, masing-masing ki Gilang Tomas Kumoro, ki Utoro Wijayanto dan Ki Giatno.

Acara yang akan digelar di lapangan Way Dadi Sukarame Bandarlampung, 23 April 2016 itu akan menampilkan lakon Gatotkaca Kalajaya. “Wayang kulit saat ini sudah sangat komunikatif dan mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia secara umum. Maka ini dipilih untuk muhibah budaya, karena bias menjadi jembatan penyampaian program pemerintah ke masyarakat,” kata Sumarju Saeni, Kadis Kominfo Provinsi Lampung di ruang kerjanya, Senin, 11 April 2016.

Seperti diketahui, selain banyaknya warga Lampung yang berasal dari pulau Jawa, memang kesenian ini sudah menjadi konsumsi masyarakat secara umum. “Bahasa para dalang kini sudah cukup baik dalam komunikasi dengan penontonnya. Lakonnya tetap dijalankan secara pakem, namun komunikasi dengan pesan yang hendak disampaikan bisa dimengerti secara luas,” ujar Sumarju.

Lakon yang dipilih juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dan akan menjadi informasi dalam kemasan budaya ke masyarakat. Karena saat ini yang diperlukan masyarakat adalah informasi yang jelas dan gamblang, sehingga membuat kejelasan yang terang benderang.

Sumarju menambahkan bahwa wayang kulit sebagai satu seni budaya adiluhung yang mampu menterjemahkan perkembangan jaman dan model komunikasi yang interaktif dengan masyarakat. “Maka dari itu, wayang meskipun dalam berbagai keterbatasan, masih mampu bertahan dalam masyarakat modern seperti sekarang ini. Para dalang juga mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan model komunikasi dan informasi yang saat ini trend,” tambah Sumarju.

Maka muhibah budaya ini menjadi punya nilai penting, terutama bagi kedua daerah yang berkepentingan, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta dan Lampung.

Wayangan semalam suntuk itu bukan sekedar membabar lakon Gatotkaca Kalajaya saja, tetapi juga dikemas dengan hiburan yang segar. “Selain untuk keperluan muhibah budaya, dan menginformasikan hasil pembangunan, juga memberikan hiburan kepada masyarakat. Fifty-fifty lah,” ujarnya.

Maka dari itu diimbau masyarakat terutama para penggemar kesenian wayang kulit, dapat hadir dan menyaksikan pagelaran yang cukup spektakuler itu. (Sapto)