Jalan ke Arah Ulu Belu Makin Hancur

01 April 2016 - 20:30:30 | 2295 | BERITA DAERAH

DL/01042016/Tanggamus

---- Masyarakat di Desa Pulau Panggung – Tanggamus mengeluhkan kerusakan jalan utama yang menghubungkan kampung satu dengan yang lain di Pulau Panggung, kian lama kian hancur.

Namun, pihak Pertamina khususnya pengelola proyek Gas di Ulu Belu, Tanggamus seperti cuek, dan seolah tak melihat kenyataan yang ada di lapangan.

Menurut Junaidi, warga kampung Pulau Panggung, kondisi ini sudah cukup lama dan tidak pernah ada upaya PT Pertamina yang notabene menjadi penyebab rusaknya jalan itu, dengan mobil-mobil besarnya yang mengangkut bahan berat.

Menurut Iyan, warga setempat mobil-mobil besar yang hanya diperbolehkan berjalan diatas pukul 22.00 wib itu dipastikan menjadi penyebab kerusakan jalan yang makin parah ini. “Warga sampai mengemis kepada para pengguna jalan yang lewat untuk meminta bantuan untuk membeli batu dan menambal jalan yang hancur ini,” katanya.

Tetapi, tambahnya, kalau ada mobil dari para pejabat atau pegawai Pertamina lewat jalan itu, juga hanya memberi Rp2 ribu, paling besar Rp 5 ribu. “Kayaknya sama sekali tidak ada rasa bersalah telah menyebabkan jalan ini rusak.” Tuturnya.

Namun warga masih bersabar menunggu pihak dari Pertamina Ulu Belu mau bertanggung jawab untuk perbaikan jalan yang disinyalir ada lebih dari 7 Kilometer yang rusak. “Dari sini (Pulau Panggung) hingga Gunung Megang, ada sekitar 7 kilometer, kondisinya cukup parah. Ada beberapa ruas yang sudah diperbaiki oleh Tentara (TNI – red). Nah kalau di sini warga yang sum-suman (iuran-red) untuk membeli batu dan menguruk di depan rumah kami yang hancur, risih melihatnya,” ujar seorang pria paruh baya yang akrab dipanggil Pak Cik.

Intinya, warga hanya meminta kesadaran pihak Pertamina Ulu Belu untuk hal ini. Karena mereka menganggap manajemen Pertamina terdiri dari orang-orang cerdik pandai dan berpendidikan tinggi yang tentu jauh lebih mengerti tentang tata karma sebagai warga Negara Indonesia.

“Ya mereka kan orang-orang pinter dan berpangkat. Kami menganggap mereka lebih intelek dan berperasaan serta professional ketimbang kami orang kampung,” katanya. (R-01)