GOR Mini Pringsewu Tidak Disewakan, Hanya Bayar Perawatan

05 Oktober 2013 - 17:11:24 | 2294 | BERITA DAERAH

DL/03102013/Pringsewu.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kabupaten Pringsewu mengakui belum ada serah penerimaan aset pembangunan gedung olah raga  (GOR) Mini ‘Kuncup’, Pringsewu dari pemkab setempat.
Secara yuridis formal belum ada payung hukum menyangkut penggunaan GOR mini Kuncup itu, baik dari pemkab Pringsewu kepada dispora atau KONI setempat.

Selama ini, penggunaannya dikelola oleh pengelola sementara, dan diterapkan untuk membayar biaya kebersihan dan listrik saja. “Selama ini cabang olahraga yang menggunakan gedung untuk berlatih, tidak dikenakan biaya, gratis. Tapi ada yang memakai dari  umum, kita kenakan biaya kebersihan saja. Ini untuk mengcover keperluan listrik, honor penjaga gedung dan kebersihan saja. Dan ini dikelola oleh pengelola dengan pembukiuan yang baik,” kata Alikahn, ketua KONI Pringsewu.

Dalam bincang Jumat PWI Perwakilan Pringsewu itu, juga disinggung masalah masih belum jelasnya posisi GOR Kuncup, yang selama ini dianggap masih dalam sengketa, atau berperkara.

Sementara kebutuhan untuk latihan dan berbagai kebutuhan lain atas gedung itu sudah mendesak, maka dilakukan antisipasi oleh pengelola. KONI yang berkantor di gedung itu, tentu membutuhkan kejelasan agar dapat dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada. ”Kami mencoba yang terbaik dan teraman. Semua sudah kami laporkan ke Sekdakab dan bahkan ke bupati, agar tidak terdapat persepsi yang negatif,” tambah Ali.

Beberapa waktu lalu didapat kabar bahwa bupati akan segera membentuk tim verifikasi pembanguna GOR tersebut yang dilaksanakan salah satunya oleh dinas PU setempat, namun untuk penyerahan aset itu kepada KONI Pringsewu, hingga saat ini belum ada. ”Belum ada SK yang turun, saya gak tahu apakah sudah ada SK atau belum. Yang jelas kami belum terima SK nya.” kata Alikahn.

Meskipun secara tertulis belum ada ijin penggunaan, Ali mengatakan bahwa Imop, ketua komite pembangunan GOR sudah pernah menghadap ke provinsi dan dipersilahkan mempergunakan dulu, meski belum dengan surat resmi.

Salah satu contohnya adalah ketika terjadi ada atap yang bocor, maka dengan inisiatif pengelola, harus menggunakan dana partisipasi pengguna gedung untuk memperbaikinya. ”Ini sudah langkah terakhir. Karena kami tidak punya dana khusus untuk perbaikan dan pemeliharaan, maka dana partisipasi itulah yang kami pergunakan, dan pembukuannya jelas di luar KONI, kok,” ujar Alikahn. (r-spt)