Mukhlis Basri: Biar Saja Dibilang Miskin

03 Januari 2016 - 21:49:12 | 2565 | BERITA DAERAH

 

DL/03012016/Liwa

---- Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri, menegaskan bahwa meskipun daerah yang dipimpinnya itu dikategorikan sebagai daerah tertinggal oleh pemerintah pusat, namun ia mengaku tak memasalahkannya. “Biarkan saja dibilang daerah miskin, yang penting rakyatnya kaya,” katanya.

Ini diungkapkannya belum lama ini menanggapi keluarnya penilaian dari pemerintah pusat yang mengklasifikasikan Lampung Barat sebagai kabupaten tertinggal. Ini salah satunya karena di daerah ini rawan bencana longsor dan gempa. “Penilaian ini semata-mata karena di sini rawan bencana. Ya gak papa, dinilai begitu,” katanya.

Padahal dari beberapa indikator yang dikeluarkan badan pusat statistik menempatkan Lampung Barat masuk dalam kategori daerah yang perkembangannya pesat.

Menurutnya, di Lampung Barat pada tahun 2008, diawal ia menjabat Bupati (Mukhlis dilantik 10 Desember 2007-Red), angka kemiskinan 27 persen, dan sekarang sekarang tinggal 13 persen, menempatkan Lampung Barat sebagai kabupaten terkaya nomor 6 di Provinsi Lampung.

Jika mengacu pada data BPS 2014, dari  kriteria perekonomian masyarakat, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Barat, berada pada angka 5,57 atau urutan ke-9 dari 15 kab/kota se-provinsi Lampung (diatas 6 Kabupaten yang tidak dikategorikan tertinggal). ”Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lampung Barat pada angka 63,54 atau urutan ke-10 dari 15 Kabupaten/kota,” jelas Bupati.

Pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Lampung Barat dengan persentase 78.38 persen merupakan yang terbesar jika dibandingkan dengan kabupaten/kota se Provinsi Lampung. Sedangkan untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dengan persentase 2.52 persen merupakan yang terkecil jika dibandingkan dengan kabupaten/kota se Provinsi Lampung.

Lampung Barat pada 2015  dari total 136 pekon, terdapat 38 pekon yang masuk kategori tertinggal. Jumlah ini berkurang 43 pekon dibandingkan 2013 sebanyak 81 pekon tertinggal. ”Ini data yang di keluarkan BPS tahun 2014. Kalau mengacu indokator tersebut Lambar tidak masuk daerah tertinggal.” Jelas Mukhlis.

Dengan berseloroh Mukhlis mengatakan bahwa masyarakat lampung Barat lebih realistis. “Bagi kami warga Lampung Barat, lebih baik dibilang miskin tapi kaya. Daripada dibilang kaya tapi miskin. Buktinya, Tidak ada rumah geribik di Lampung Barat. Semua rumah atau kepala keluarga di hampir semua memiliki kendaraan bermotor roda dua dan televisi. Dibidang kesehatan, tidak ada kekurangan pangan apalagi gizi buruk atau busung lapar, “ Ungkapnya.

Bermanuver

Sementara itu seorang tokoh masyarakat Lampung Barat yang juga mantan anggota DPRD setempat, Bahrin Ayub menanggapi penilaian ini sebagai sebuah maneuver. “Saya ingin menanggapi dari sisi lain. Ini kan jelang Pilkada Lampung Barat 2017, jadi mulai banyak yang bermanuver. Tapi saya yakin warga tidak terpengaruh karena selama ini lambar aman kondusif, itukan karena warga sejahtera.” kata dia

Namun dirinya juga tidak menampik, jika masih tercantumnya Lampung Barat sebagai daerah tertinggal juga bagian dari strategi anggaran untuk terus bisa turunnya bantuan dari pemerintah pusat ke daerah. “Tapi bisa jadi itu politik anggaran. Asal memenuhi persyaratan dan tidak melanggar hukum tidak masalah. Buktinya tahun ini Lambar dapat bantuan sapi senilai Rp7 miliar dan bencana alam Rp3,5 miliar.  Bahkan ada kabupaten di Provinsi Bali yang tetap ingin Kabupatennya masuk Kabupaten tertinggal untuk mengejar anggaran dana pusat ini.” kata dia. (R-01/VP)