Pekerja Indonesia Beda Dengan Pekerja China

03 November 2015 - 16:28:31 | 324 | PARLEMENTARIA

 

DL/3112015/JAKARTA

----- Peningkatan produktivitas menjadi sesuatu yang menjadi keinginan bagi kalangan pengusaha, seperti furnitur. Hal ini terkait dengan Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Ketua Mebel Rotan dan Bambu Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Edy Saputra menilai selama ini upah memang menjadi masalah utama bagi industri padat karya seperti mebel dan furnitur.

Namun, selama produktivitas pekerjanya sesuai dengan besaran upah, hal tersebut dirasakan tidak menjadi masalah.

"Upah minimum itu masalah yang krusial. Di satu sisi cost produksi kita sangat berpengaruh kalau upah minimumnya di atas  besaran yang ditentukan. Tetapi Di sisi lain kinerja pekerja di bawah itu. Itu bermasalah. Kecuali upahnya sekian tapi produktivitasnya setara," katanya di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (3/11).

Menurut Edy, selama ini industri mebel dan furnitur di dalam negeri sebagian besar telah mengikuti penetapan upah minimum sesuai dengan daerahnya masing-masing.

Saat ini yang menjadi masalah justru produktivitas dari para pekerja. "Kebanyakan industri kita rata-rata banyak yang lebih dari upah minimum, cuma yang kita keluhkan produktivitasnya kurang, kemudian harga jual produk jadi mahal, pembeli tidak mau beli. Itu yang bikin lesu," tukasnya.

Kemudian, produktivitas pekerja Indonesia kalah jauh jika dibandingkan dengan pekerja di China. Jika dilihat dari jam kerja saja, pekerja di negeri tersebut punya jam kerja yang lebih panjang dibandingkan pekerja di Indonesia.

"Produktivitas kita kalah dengan negara lain, seperti dengan China. Mereka kerja dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam. Kalau di kita cuma dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Itu kan sudah jauh," ungkapnya.

Selain itu juga dari sisi budaya. Pekerja di Indonesia harus diawasi secara terus menerus agar mau bekerja sesuai target. Hal tersebut berbeda dengan China dimana pekerjanya sudah sadar harus memenuhi target masing-masing.

"Dari segi budaya kerja, orang kita kalau kerja harus dimonitor, kalau tidak kerjanya tidak beres. Tapi kalau di sana mau dimonitor atau tidak, mereka kerja punya target," imbuhnya. (R y a n)