X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Potensi Ekonomis Versus Potensi Bencana Alam

  • dibaca 1030 kali

    DL/01092015/Lampung Timur


    Provinsi Lampung memiliki topografi yang lengkap antara lain memiliki 3 sisi laut dengan panjang pantai 1.105 km dan 132 pulau-pulau kecil yang sebagian besar berpenghuni, gunung anak krakatau yang sangat aktif juga perbukitan dan dilintasi oleh beberapa sungai besar.

    Disatu pihak topografi tersebut merupakan potensi ekonomis yang strategis namun disatu pihak merupakan potensi terjadinya bencana alam. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Satria Alam dalam upacara pembukaan Kampung Siaga Bencana (KSB) Rabu (30/9) di Desa Mergasasi, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.

    Kejadian Bencana Alam Seperti Tsunami, Gempa, Tanah Longsor, Puting Beliung, Banjir, Gunung Meletus tidak dapat diprediksi dari awal. Melalui KSB masyarakat diberikan pengetahuan, ketrampilan dan managemen pengelolaan kurban bencana agar dapat meminimalisir kurban jiwa. Imbuh Satria Alam.

    Menurut Kepala Bidang Bantuan Sosial Maria Tamtina  alasan dipusatkan di desa Mergasasi mengingat di desa tersebut dan sekitarnya merupakan daerah rawan bencana yaitu abrasi air laut banjir angin puting beliung dan dimungkinkan tsunami.

    "Dalam KSB, masyarakat dilatih menjadi kader yang paham tanda-tanda alam sebelum terjadinya bencana alam sekaligus akrab dengannya, serta memiliki kesiapan mental menghadapi setiap bencana atau disebut live in harmony with disaster." Katanya.

    Pada posisi demikian, Taruna Siaga Bencana (Tagana) diminta tiba satu jam di lokasi bencana. Sebagai frontliner (garis terdepan), Tagana sudah menjadi bagian dari penanganan bencana alam dan bencana sosial, dengan menyiapkan dapur umum lapangan (dumlap), evakuasi darurat, serta mendirikan tenda darurat.

    “Dalam proses evakuasi korban bencana, Tagana berada pada sub-sistem dari Badan SAR Daerah. Sedangkan, pada masa tanggap darurat mereka berada langsung di bawah Kemensos, ” katanya

    Warga masyarakat yang telah terlatih merupakan supporting team jika terjadi bencana alam disekitar wilayah tersebut.
    Menurut Kepala Seksi Penanggulangan Kurban Bencana Rustadi Trisaputro pada tahun 2015 pelatihan KSB akan dilaksanakan di 3 (tiga) lokasi yaitu Lampung Timut, Pesawaran dan Lampung Selatan. Pelatihan KSB dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dengan materi pengenalan penyebab tanda tanda akan terjadinya bencana seperti stunami, gempa, banjir dan sebagainya, dapur umum, evakuasi, pendirian tenda (shelter), psiko sosial dan managemen penanganan kurban. Disamping itu masyarakat terlibat aktif dalam gladi posko bencana alam.

    Adapun instruktur dihadirkan dari Kementerian Sosial, Dinas Sosial, BMKG, BPBD, Kodim dan Polres Lampung Timur,  Badan SAR Daerah Lampung, serta Tagana Provinsi Lampung. Demikian Rustadi dalam mengakiri Pembicaraannya. (Smj)

  • Berita Terkait

  • Arinal: Resi Gudang Diarapkan Mampu Tahan Harga

    Inventarisasi dan Identifikasi Diserahkan 3 Oktober

    AKBP. Dedi Supriyadi Kapolres Lampung Utara

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar