Permasalahan Penyerapan Anggaran Selalu Berulang

08 September 2015 - 23:05:00 | 1053 | PARLEMENTARIA

DL/08092015/Jakarta

----- Kurang maksimalnya penyerapan anggaran selalu menjadi siklus permasalahan yang selalu terjadi tiap tahunnya. Bahkan, ketika sudah menginjak tahun anggaran di triwulan terakhir, penyerapan anggaran masih berkisar di bawah 50 persen. Salah satunya terjadi di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Demikian mengemuka ketika rapat kerja Komisi X dengan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, di ruang rapat Komisi X, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, belum lama ini. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi X Abdul Kharis Almasyhari.

“Dari tahun ke tahun, penyerapan anggaran selalu seperti ini. Kenapa serapan selalu kurang maksimal terus. Apakah yang salah sistemnya, atau tahun fiskalnya,” kata Anggota Komisi X Utut Adianto, seolah bertanya.

Politikus F-PDI Perjuangan ini sebelumnya sudah menegaskan kepada Presiden dan Menteri Keuangan, agar tahun fiskalnya diubah. Ia menyarankan tahun fiskal atau tahun anggaran bukan dari Januari sampai Desember, tapi dari 1 Maret hingga 31 April setiap tahunnya.

“Karena Menteri tidak bisa menjalankan anggaran jika siklus anggaran dari Januari sampai Desember, padahal uangnya baru ada bulan April setiap tahunnya. Ini cuma cerita di atas kertas, padahal anggaran sudah diketok di Komisi X,” kecewa Utut.

Untuk itu, ia meminta Menpora untuk lebih meningkatkan kerjasama dengan Komisi X, selaku mitra kerjanya. Ia juga mengajak Komisi X untuk memberikan dorongan kepada Kemenpora.

“Kita harus memberikan konsideran yang kuat kepada Menteri, terutama karena serapan kita tidak berkualitas, selalu padat di triwulan terakhir setiap tahunnya,” ketus politikus asal daerah pemilihan Jawa Tengah itu.

Sementara itu, kekecewaan juga diungkapkan Anggota Komisi X Dadang Rusdiana. Dadang menyarankan agar segera dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyerapan anggaran ini. Sehingga, hal ini akan menjadi pengalaman dalam menyusun RAPBN 2016.

“Untuk RAPBN 2016 nanti, kita harapkan Oktober sudah kita tetapkan anggaran di DPR, maka proses lelang harus segera dilakukan pada November atau Desember tahun ini. Sehingga pada Januari 2016 sudah ada implementasi,” saran Dadang

Politikus F-Hanura ini juga khawatir, kegagalan Indonesia dalam mencapai prestasi di berbagai kejuaran olahraga juga diakibatkan karena permasalahan anggaran.

“Dikhawatirkan permasalahan anggaran ini berkorelasi dengan prestasi olahraga. Ini selalu berulang setiap tahunnya, selalu rendah, dan anggaran itu hanya terserap paling besar di triwulan terakhir,” analisa Dadang.

Apalagi, lanjut Dadang, Menpora juga mengakui, salah satu dampak dari penyerapan yang rendah, target prestasi olahraga tidak tercapai. Salah satunya di Sea Games Singapura 2015 lalu. Indonesia hanya bertengger di posisi lima, dari target juara ke dua.

“Mudah-mudahan, penyerapan anggaran tahun ini bisa tercapai mencapai di angka 90 persen. Kita akan mendorong sungguh-sungguh agar penyerapan maksimal,” janji politikus asal daerah pemilihan Jawa Barat ini.

Sementara itu sebelumnya, Menpora menjelaskan bahwa hingga per 28 Agustus 2015, anggaran baru terserap sebesar 33,91 persen, atau senilai Rp 1,028 triliun, dari total anggaran sebesar Rp 3,034 triliun. Berarti masih ada sisa anggaran sebesar Rp 2,005 triliun. (Ryan)