X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Frans Agung : Tanggapi Tudingan Pemalsuan Gelar Doktor

  • dibaca 1630 kali

    DL/27052015/Jakarta

    Anggota Komisi II DPR RI, Frans Agung Mula Putra, membantah tuduhan penggunaan Gelar Doktor oleh mantan Stafnya, Denty Noviany Sari, seperti yang dilansir oleh detik.com.

    Politisi Partai Hanura (Dapil Lampung) mengungkapkan bahwa, dirinya tidak pernah melakukan Pemalsuan Gelar Akademik (Doktor), untuk kepentingan apapun.

    Pemalsuan menurut Hukum, ada 2 (dua) bentuk,  yakni Pemalsuan secara Formil artinya tata cara mendapatkan gelar Doktor tidak memenuhi syarat.

    "Pada faktanya saya sekarang menempuh Pendidikan Doktor di Universitas Satyagama, dan tnggal 3 (tiga) tahapan lagi," ujar Politisi Muda Partai Hanura, Frans Agung Mula Putra di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (27/5).

    Frans menuturkan bahwa, artinya Pemalsuan secara Formil tidak terpenuhi. Karena dia sedang menempuh Pendidikan Doktor di Universitas Satyagama.

    "Terkait secara Materiil saya tidak pernah membuat Ijazah atau memalsukan Ijazah dari lembaga pendidikan yang resmi. Saya tidak pernah mengunakan Gelar Doktor tersebut dalam kepentingan ke tatanegaraan atau kepentingan formal institusi DPR RI," jelasnya.

    Kemudian, lembaga pendidikan dimana saya menempuh Pendidikan S.III/ Doktor, adalah salah satu Universitas yang mendapatkan Akreditasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek.

    "Intinya, saya tidak pernah merugikan pihak manapun. Dan itu merupakan inisiatif mantan Staf saya. Karena mereka yang buat Kartu Nama tersebut," tandasya.

    Lanjut dia,  bagi saya tuduhan Gelar Doktor palsu itu, mengusik nurani intelektualnya. Karena saya mengetahui secara betul, mendapat Gelar Doktor itu susah. Dan Frans mengaku memahami kode etik civitas akademi, tidak boleh sembarangan gelar akademik tanpa melalui prosedur dan jalur pendidikan formal.

    Justru mereka yang melaporkannya, punya permasalahan dengan dirinya, terkait pemalsuan tanda tangan, sebagai atasan mereka. “Pemalsuan tanda tangan saya, tentang pemberkasan Surat Pernyataan, sebagai syarat untuk menjadi Tenaga Ahli dan Staf Administrasi Anggota DPR RI. Yang dilakukan oleh Drs. Akbar Rizal MM, yang juga disaksikan oleh Denty dan Fauzan Ramadhan.” Katanya.

    Dengan alasan pada saat itu batas waktu untuk pengumpulan berkas untuk menjadi Saf Anggota DPR RI, sudah mendekati hari akhir, pada saat itu dia sedang di luar kota.

    Setelah Akbar Rizal, memalsukan tanda tangannya, lalu berbicara di depan Gerald, bahwa Akbar Rizal menyadari dan mengakui tanda tangan yang dipalsukan tersebut tidak terlalu mirip.

    Bahkan, berbicara di depan Gerald, “ Biarlah kalo tidak begini, tidak akan beres urusan”. Akbar Rizal, memalsukan tanda tangan Frans tersebut, dalam rangka pencairan rapel gaji selama 3 bulan.

    "Artinya, bahwa itu sangat fatal bagi seorang Staf, dan saya bisa tuntut balik secara hukum, karena terlalu berani dan tanpa mempertimbangkan resiko pemalsuan tanda tangan saya," tegas Frans. (Ryan)

  • Berita Terkait

  • GMD Dibarengi Web Desa

    Rini: Cepat Tapi jangan Melanggar Aturan

    Baru 14,85 Persen Desa di Lampung Maju

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar