H Fuad: Pengunjung Daerah Wisata Naik? Dimana PHRI?

12 Februari 2015 - 16:07:00 | 324 | PARIWISATA

DL/12022015/Bandarlampung

Perkembangan Pariwisata Lampung yang dinilai sangat lamban dan tidak punya greget, setidaknya sudah menjadikan beberapa pihak gregetan. Menurut data terakhir, meski berjalan autopilot dilansir tingkat kunjungan wisata di Lampung naik 10% pertahun.

Potensi destinasi wisata Lampung yang luar biasa itu seolah hanya dikagumi dan dibicarakan di rapat-rapat saja, dengan rencana-rencana di atas kertas, tanpa eksyen yang jelas dari pemerintah.

Salah seorang pengusaha kuliner yang juga mengamati perkembangan pariwisata Lampung, H. Fidyan Fuad, mengkritisi lambatnya penangan dan pengembangan daerah-daerah wisata di Lampung, yang seolah-olah hidup segan mati tak mau. “Jika ada yang ramai dikunjungi pun, fasilitasnya seadanya, dan ya begitu-begitu saja. Tidak ada yang bisa memberikan kesan pengunjung kangen terhadap tempat itu,” katanya, Kamis (12/2).

Menurut Fuad, pemerintah belum terlihat ada penekanan kepada dinas-dinas terkait dengan memberikan target yang jelas dalam pengembangan pariwisata di Lampung. Setidaknya kepala daerah harus mampu menggiring pejabat-pejabat terkait untuk berinovasi yang jelas mengenai obyek wisata agar dikembangkan. Karena dari sini juga akan didapatkan Penghasilan Asli Daerah (PAD).

Pengembangan obyek wisata alam di Lampung juga dinilai sangat lambat, bahkan bisa dibilang jalan ditempat. “Kami kan sering pergi ke beberapa obyek wisata pantai atau gunung yang potensinya sangat besar dikembangkan. Tetapi ya begitu-begitu saja, apa adanya. Kalau kita mau makan atau minum, yang dijumpai di sana juga makanan yang ada di sekitar rumah kita, seperti Bakso, Soto dan lainnya. Artinya, tidak ada unsur kuliner atau apa saja yang membuat kita kangen,” tambah pengusaha “Pecel Lele H. Fuad,” yang punya banyak outlet di Bandarlampung itu.

Bicara Pariwisata, katanya, tidak lepas dari peran serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Kemungkinan ini juga faktor kurang aktifnya PHRI melakukan pembinaan terhadap anggota organisasi.

Seperti diketahui bahwa pariwisata selalu berkaitan dengan PHRI setempat. “Bicara soal PHRI, saya malah pengin tahu. Apakah masih ada PHRI di Lampung ini? Setahu saya selama ini belum dirasakan ada pembinaan yang benar dalam PHRI. Coba bayangkan, hotel bintang dan hotel melati, punya tarif yang hampir sama, bahkan bisa sama. Ini kan mematikan usaha yang dibawah. Mana peran PHRI? ” katanya.

PHRI yang menggalang banyak anggota, seharusnya mampu memberikan asistensi dan advokasi soal seketaraan harga, kemudian memberikan pembinaan dalam hal pelayanan dan berbagai hal yang menyangkut tentang promosi.

Haji Fuad menegaskan bahwa saat ini tidak perlu malu-malu bicara keterbukaan.  Jika memang kenyataannya ada kekurangan harus diakui ada kekurangan. Maka negeri ini akan mengalami kemajuan. “Jangan malu mengakui kekurangan kita kalau kita mau maju. Menerima kritikan yang membangun juga perlu, karena tidak semua ilmu kita kuasai sendiri. Meskipun saya pengusaha kuliner dan memang bukan anggota PHRI, sebenarnya ingin tahu apa kerja PHRI selama ini. Karena teman-teman saya yang punya restoran dan diajak bergabung jadi anggota PHRI selama ini juga tidak mendapatkan pembinaan yang proporsional oleh organisasi ini.” Tambahnya.

“Menurut saya, kalau memang organisasinya tidak bermanfaat yang direvisi pengurusnya, atau lebih ekstrim lagi yang dibubarkan dan diganti baru saja yang punyai batasan kerja yang jelas,” ungkap Haji Fuad.

Ketika didesak kenapa grup rumah makannya tidak menjadi anggota PHRI, Haji Fuad mengatakan bahwa selama ini tidak pernah ada yang menyurati, mengajak atau mendaftarkan menjadi anggota PHRI. “Saya kan cuma dengar dari kawan-kawan yang anggota. Tapi rumah makan saya mungkin kan tidak termasuk kategori PHRI, jadi ya mungkin tidak perlu jadi anggota. Tapi kalau soal pajak restoran kami cukup besar berpartisipasi ke pemerintah,” ujarnya.

Kembali ke Pariwisata dan PHRI, yang seharus mendapatkan perhatian pemerintah agar lebih dilecut lagi untuk meningkatkan kepariwisataan di daerah ini, Haji Fuad mengharapkan adanya tindakan konkrit dari pemerintahan provinsi Lampung. “Sebaiknya pak Ridho memberikan instruksi yang jelas kepada Kadis Pariwisata soal target pengembangan pariwisata daerah ini, karena anggaran setiap tahunnya kan ada terus.” Kata Fuad. (R-01)