Asril Barning : Puisi Bisa Bentuk Karakter

01 Februari 2015 - 10:19:37 | 2025 | HIBURAN

DL/01022015/Bandarlampung

Membaca puisi bukan sekedar membaca dengan suara yang dibuat-buat supaya memenuhi tuntutan isinya. Namun memerlukan beberapa proses pendalaman yang harus dilakukan si pembaca. Demikian ditegaskan Asril Barning, praktisi seni baca puisi dan seniman yang hingga saat ini masih setia menggeluti seni baca puisi, baru-baru ini di Bandarlampung.

Asril mengaku sedang melakukan kegiatan door to door ke berbagai sekolah untuk memberikan pembelajaran seni baca puisi kepada guru SMA, SMP maupun SD khususnya guru bahasa Indonesia.

Menurutnya membaca puisi memberikan sebuah pengalaman yang luar biasa, karena dalam sebuah puisi selalu terkandung makna dan maksud yang selalu berbeda. “Puisi itu sebuah terapi. Kenapa terapi, dengan membaca puisi secara rutin dan menghayatinya, maka ini bisa memberikan sebuah efek pembentukan karakter seseorang. Terutama akan memunculkan sisi keberanian dalam penampilannya di depan orang banyak,” kata Asril.

Maka dari itu, penting untuk diketahui dan dipraktekkan oleh para guru terutama bahasa Indonesia atau mata pelajaran apa saja. Paling tidak dengan mengenal puisi dan membacanya akan menimbulkan gairah untuk menjiwai dan menampilkannya di depan publik.

Jika ini sudah bisa dikuasai, maka akan tumbuh karakter sesungguhnya setiap individu dengan dan tanpa disadarinya. “Akan tumbuh rasa percaya diri yang kuat, dan akhirnya mereka akan mampu mengeluarkan ekspresi yang positif. Puisi biasanya berisi kritikan pedas, gugatan, cacian dan beberapa bentuk lainnya yang bisa menggugah semangat pendengarnya. Tetapi banyak puisi yang juga berisi humor, cinta dan segala warna lain.” Tambah Asril.

Asril mengaku selama menjadi guru dan kemudian menempuh kesarjanaannya, terus menggeluti puisi dan banyak manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Saat ini diakuinya bahwa minat membaca puisi sangat kecil dan pudar, tidak seperti tahun 1980-an kebawah. “Salah satunya adalah para guru bahasa Indonesia tidak lagi memberikan satu tangkai kesenian yang berupa puisi ini kepada murid-muridnya. Makanya sekarang saya ingin memberikan dan membangkitkan kembali puisi yang sekarang sedang mati suri ini, sayang kalau puisi atau dulu dikenal dengan deklamasi ini mati begitu saja,” tambah Asril.

Puisi diyakini akan membentuk karakter para siswa yang mempelajarinya, karean puisi bisa dipakai sebagai pelarian kekecewaan, kesenangan dan ekspresi lainnya. Siswa yang terus diajari mengenal puisi, maka mempunyai kreativitas dan lebih terbuka sikapnya.

“Paling tidak puisi ini sebagai salah satu seni yang paling murah. Tidak perlu alat lain kecuali mulut kita. Dalam pementasannya juga tidak harus di atas panggung megah atau peralatan sound sistem yang berkekuatan besar. Yang penting bisa menjangkau hadirin di tempat itu sudah selesai. Karena puisi hanya perlu pembacaan dan penghayatan yang prima dengan vocal yang disesuaikan dengan isinya. Maka itu sudah cukup untuk mempengaruhi orang di sekitarnya.” Ungkap Asril.

Memang ada yang kemudian membuat puisi lebih berseni, melalui musikalisasi puisi dan beberapa bentuk lainnya. Maka seni berpuisi ini adalah sebuah bentuk kesenian yang murah meriah tetapi mempunyai manfaat yang cukup banyak.

Asril mengingatkan bahwa dengan membangun kembali puisi di sekolah-sekolah maka akan memberikan warna lain berkesenian bagi anak muda yang sekarang hanya dijejali dengan syair-syair lagu yang kurang mendidik dan bermanfaat bagi anak-anak berusia remaja.

Oleh karenanya Asril mengajak para guru-guru terutama bahasa Indonesia untuk lebih memahami seni baca puisi ini, terutama dalam mengambil hikmah dibalik baca puisi itu. (R-01)