Sejarah, Sepakbola Lampung ke Semifinal PON Remaja

13 Desember 2014 - 20:51:31 | 2923 | PON REMAJA 2014

DL/13122014/Surabaya

Tim sepakbola Lampung akhirnya berhasil menciptakan sejarah baru persepakbolaan di tingkat nasional setelah melenggang ke semifinal di pentas Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja I di Surabaya Jawa Timur.

Anak asuhan Edi Iswantoro menang 2-0 atas Sulawesi Selatan yang bermain di lapangan sepakbola ITS Surabaya, Sabtu (13/12).

Permain yang awalnya cukup bersih dan bertempo tinggi, dibawah terik matahari Surabaya yang begitu panas, Lampung sempat mengejutkan Sulawesi Selatan dengan gol yang dicetak Raeis mahendra menit 8, memanfaatkan blunder yang dilakukan Agung Mannan, beck kiri Sulsel yang tidak cermat menyapu bola.

Arah yang melintir menuju dimana Raeis berada, dan dengan sekali kontrol, pemain bernomor punggung 14 itu langsung melesakkan si kulit bundar ke sudut kanan gawang Kurniawan Arsyad. 0-1.

Sejak gol pertama Lampung itu, tensi pertandingan mulai meninggi. Permainan keras ciri khas Makassar mulai ditunjukkan anak-anak Sulsel. Namun karena cara bermain anak-anak belum matang maka justru menjadi blunder bagi tim Juku Eja. Wasit Solikhin asal Surabaya mengeluarkan dua kartu kuning untuk para pemain Sulsel sejak menit 5, untuk Muh Fikran  dan pemain Lampung Raihan Kalandoro karena terlibat saling sikut.

Dua kartu kuning kembali keluar dari kantong wasit untuk gelandang Sulsel Ahmad Zulfikar dan Kurniawan Arsyad kiper Sulsel, karena dengan melanggar dengan keras pemain Lampung, Idham Sanuri.

Dengan peringatan keras wasit itu bukan menyurutkan emosai para pemain malah seperti menyulut para pemain Sulsel bermain lebih keras cenderung kasar. Dan teka segan-segan menendang kaki walau tanpa bola.

Beruntung anak-anak Lampung tidak meladeni semua permainan keras itu, meskipun permainan mereka akhirnya tidak berkembang dengan semestinya.

Puncaknya, menit 40, pemain depan Sulsel, Irfan Jaya (10) melakukan pelanggaran terhadap kiper Lampung Fadhil Ramadhan dengan cara yang terang-terangan, meski bola sudah didekapan Fadhil. Tak pelak Wasit merogoh kantongnya dan mengeluarkan kartu merah untuk Irfan.

Namun keunggulan 0-1 Lampung itu tetap bertahan hingga akhir babak pertama.

Hujan Kartu Merah

Babak kedua pertandingan sudah seperti “neraka”. Permainan anak-anak Makassar sudah benar-benar kasar. Meskipun mereka belakangan mengaku kecewa terhadap kepemimpinan wasit, tetapi yang menjadi korbannya adalah anak-anak Lampung.

Meskipun ditekan dengan permainan keras, namun Danang Ari Pradana cs tidak terpancing, dan tetap bermain dengan menurunkan tempo dan sesekali menyerang lewar sayap kanan dan kiri.

Sulsel beberapa kali juga mengancam gawang Fadhil. Seperti menit 50, ketika serangan satu dua pemain lincah bertenaga Muhamad Aqram dan Irwanto yang masuk menggantikan Ilham Efendi. Tendangan keras Ilham masih dapat diblok Fadhil dan bola liar disapu bersih Danang Ari Pradana.

Insiden kembali terjadi, saat pelanggaran keras dilakukan Achmad Zulfikar terhadap Faldi Adestama, gelandang Lampung. Wasit kembali mencabut kartu merah karena sebelumnya Zulfikar sudah mendapatkan kartu kuning.

Menit 60, Lampung menambah keunggulan menjadi 0-2 setelah serangan balik yang dilakukan melalui Muhammad Toha yang menyodorkan umpan menyusur tanah kepada Faldi Adestama diamnfaatkan dengan baik.

Faldi yang menusuk lewat sektor bek kanan Sulsel mengirimkan bola Lambung ke tiang jauh, namun kiper Sulsel salah antisipasi karena sudah terlanjur menutup pergerakan Raeis yang datang dari sisi kiri gawangnya. Bola melengkung itu masuk ke gawang tanpa dapat dicegahnya. 0-2.

Salah seorang ofisial Sulsel berdiri dari bench pemain dan memaki-maki wasit dengan keras, dan wasit dengan tegas memberikan kartu merah kepada ofisial itu dan mengusirnya dari bench.

Permainan terus berlangsung dengan keras dan kasar kembali memakan korban. Satu kartu merah kembali dikeluarkan Solikhin untuk Agung Mannan karena melakukan pelanggaran keras terhadap Idham. Sulsel bermain dengan 8 orang.

Namun Lampung justru lebih banyak mendelay bola untuk menghindari benturan keras dengan lawan. Menit 82 dalam satu insiden di sektor bek kanan Sulses terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh Irwanto terhadap Raeis. Namun sebelum wasit bereaksimemberikan kartu, Irwanto mengambil bola dan menendang keras kearah kepala Raeis yang masih tergeletak. Spontan Wasit langsung memberikan kartu merah kembali kepada Irwanto.

Setelah itu beberapa pemain Sulsel mengerubuti wasit Solikhin bahkan Irwanto yang sempat keluar lapangan kembali lagi dengan membawa segelas air mineral dan dilemparkan ke punggung wasit Solikhin. Ini menyulut keributan meluas.

Hampuir seluruh pemain di Bench pemain masuk ke lapangan dan mengejar wasit sambil berusaha memukul sang pengadil. Tak kurang pelatih Sulsel, ofisial dan supporter Sulsel mengejar wasit yang lari hingga keluar lapangan masih terus dikejar dan dipukuli beramai-ramai, mirip seperti pencopet yang tertangkap massa. Mirisnya polisi yang bertugas hanya beberapa orang tak mampu mencegah insiden yang berlangsung cepat itu.

Akhirnya permainan berhenti dan Lampung keluar sebagai pemenangnya dengan skor 2-0. Informasi terakhir kemungkinan Lampung akan bertemu dengan tuan rumah Jawa Timur yang pada waktu bersamaan menag atas Daerah Istimwa Yogyakarta (DIY).

Sutan Instruksikan Pindah Hotel

Dalam keributan itu, ada beberapa pemain Sulsel mengejar dan mengancam pemain Lampung, dan sempat melempar pemain Lampung dengan botol air minum.

Menyaksikan kondisi ini, Wakil Ketua Umum II KONI Lampung, Sutan Syahrir yang menyaksikan pertandingan itu langsung menginstruksikan agar pengurus memindahkan hotel tempat menginap para pemain Lampung yang semua menjadi satu dengan para pemain sepakbola Sulsel, di hotel Satelit Jl May Sungkono ke hotel lain.

Pasalnya untuk menghindari gesekan yang dapat menimbulkan keributan antar anak muda ini. “Saya minta anak-anak dipindahkan dari hotel itu. Ini demi keamanan anak-anak. Besok mau semifinal dan malam ini harus bisa istirahat dengan tenang,” katanya.

Sutan mengatakan bahwa dalam posisi ini, Lampung harus kompak dan melindungi atlet dengan baik. “Saat ini suasananya mengharuskan saya pindahkan anak-anak. Saya tidak mau jamin kalau mereka tidak pindah hotel. Kalau mereka bertemu saat sarapan kemudian terjadi gesekan, siapa yang akan bertanggungjawab? Polisi yang disana kan tidak mengawal satu persatu pemain,” ujar Sutan.

Atas keputusan ini pelatih Lampung Edi Iswantoro setuju, mengingat situasi masih cukup panas, maka ada baiknya mereka harus dipindahkan. Sebelumnya, Anak-anak Lampung berada di lantai 7 Hotel Satelit sementara tim Sulsel berada di lantai 6 Hotel yang sama.

Akhirnya malam itu juga semua isi kamar hotel dikemasi dan pindah di sebuah hotel lain yang masih cukup dekat dengan tempat pertandingan. Hal ini pun sudah dilaporkan ke PB PON Remaja, dengan kondisi darurat maka Lampung meminta jaminan keamanan dari panitia, baik soal penginapan maupun dalam pertandingan besuk.

Edi Iswantoro mengatakan bahwa ini pertandingan resmi dan taraf nasional bertitel PON, maka seharus pertandingan juga dilakukan sesuai dengan aturan pertandingan nasional, termasuk pengamanannya. (R-01)