Judo Pasrah, Atlet Kurang Pengalaman Bertanding

12 Desember 2014 - 17:14:50 | 270 | ASIAN GAMES 2018

DL/12122014/Surabaya

Pelatih Judo Lampung di PON Remaja I jawa Timur, Erliyanto MS, mengaku pasarah dengan hasil yang diperoleh anak asuhannya selama tampil di Surabaya, karena tidak mampu mengimbangi lawan-lawan di babak-babak penyisihan.

Empat pejudo yang dibawa ke PON Remaja kali ini belum satupun yang mampu menunjukkan prestasi seperti yang diharapkan masyarakat olahraga Lampung. Dua pejudo putri Mia Triana yang turun di kelas -63 Kg dan Afifah Angelia Vanderly di kelas 44 kg gugur di hari pertama. Angel bahkan mampu menang sekali tetapi tidak mempengaruhi jalannya menuju zona medali.

Sementara dua atlet pria yang turun hari ini, Jumat (12/12) Tubagus Dinda Maulid yang turun di kelas -55 kg dan Jaya Wardana di kelas 66-81 kg terhenti juga di babak penyisihan grup.

Tubagus harus menyerah dari pejudo Jawa Barat, Saiful Pamungkas, kemudian Jaya Wardana juga tidak mampu melewati hadangan pejudo Papua, Fajar Putra.

Salah satu faktor yang diakui paling berpengaruh adalah pengalaman bertanding dari atlet Lampung yang sangat kurang dibanding lawan-lawannya dari Jawa Barat, DKI Jakarta dan Papua. “Sangat terlihat bagaimana lawan-lawan kami yang kebetulan dalam drawing sudah harus bertemu diawal penyisihan, jauh lebih berpengalaman dari para atlet Lampung. Ini tidak dapat dipungkiri,” kata Erliyanto, di Dojo KONI Jawa Timur, Kertajaya Surabaya Jumat (12/12).

Dalam drawing memang sangat tidak menguntungkan posisi anak-anak Lampung, karena langsung bertemu pejudo-pejudo tangguh dan unggulan seperti dari DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Erliyanto mengatakan bahwa pihaknya pasrah pada kondisi seperti ini, karena tidak mungkin menyalahkan situasi dan kondisi pertandingan atau beralasan bertemu lawan tangguh. “Terus terang saja, sebenarnya memang banyak yang harus dievaluasi pada situasi dan kondisi kita sendiri di Lampung. Mungkin ini akan kami sampaikan kepada pengurus PJSI. Evaluasi kami tentu secara global, terutama faktor teknis dan non teknisnya,” tambahnya.

Erliyanto menjamin bahwa bibit atlet untuk cabang olahraga Judo sebenarnya cukup banyak, oleh karenanya harus ditangani dengan tepat. 

Sementara itu Manajer tim Judo, Darmawan senada dengan Erliyanto, bahwa mepetnya waktu persiapan juga menjadi salah satu kendala Judo untuk persiapan, sedangkan dalam waktu yang singkat itupun masih belum mendapat dukungan yang maksimal dari pihak sekolah dimana anak-anak judo belajar.

Darmawan menegaskan bahwa kedepan harus ada pengertian yang baik dari sunia pendidikan untuk para atlet usia sekolah seperti ini. “Olahraga kan juga bagian dari prestasi anak. Jadi mestinya mendapat dukungan dari dunia pendidikan. Jangan sampai justru menjadi beban. Anak-anak kita di PON Remaja ini rata-rata kalah dengan pejudo dari PPLP di beberapa daerah, yang tentu sudah banyak pengalaman, meski usia muda,” kata Darmawan.

Baik Darmawan maupun Erliyanto memang mengusulkan agar di Lampung sudah mulai dipikirkan dan dibentuk PPLP untuk cabang olahraga Judo, agar pembinaan lebih terarah dan terfokus bagi pembibitan atlet. (R-01)

(R-01)