Naning: DKL Harus Pro Aktif

20 Juli 2014 - 23:18:57 | 432 | SENI & BUDAYA

DL/19072014/Kalianda

Fenomena gedung kesenian yang dibangun pada saat gubernur Lampung Sjachroeddin ZP, kini sudah memasuki tahap penyelesaian, terutama di bagian dalam atau isi dari gedung itu sendiri, seperti mebelair untuk ruangan dan beberapa pekerjaan yang tak kalah pentingnya yakni di ruang pertunjukan, yakni akustik dan lampu panggung.

Menanggapi belum diserahkannya gedung kesenian kepada pengelola atau satker tertentu, Naning, salah seorang praktisi seni dan guru kesenian yang aktif di berbagai kegiatan kesenian di provinsi Lampung ikut angkat bicara.

Seyogyanya memang gedung itu dilengkapi dulu dengan tata akustik yang memadai selain penataan lampu yang juga proporsional sebagai gedung pertujukan, atau panggung seni yang wajar untuk tingkat provinsi.

“Saya kira masih perlu banyak pekerjaan, walaupun secara fisik sudah magrong-magrong. Tapi ada yang lebih penting yakni isinya, terutama di panggung pertunjukkannya. Itu kan masih kosong melompong, Cuma ada dua lampu sorot kecil. Jadi sebelum itu diserahkan kepada satker atau langsung kepada pengelola, dalam hal ini dewan kesenian Lampung (DKL) ya harus beres dulu,” kata penyanyi jazz ini.

Program ini adalah positif dengan memberikan wahana kepada para seniman Lampung untuk berkarya,. “Saya yakin gubernur baru juga mendukung. Ini kan program bagus dan gedungnya sudah ada, tinggal sekitar 30% lagi yakni isinya. Kalau menurut hemat saya, DKL harusnya pro-akatif saja. Bisa beraudensi dengan pak Gubernur untuk melaporkan progres gedung kesenian itu. Barangkali pak gubernur juga belum tahu perkembangannya kan?” tambahnya.

Maka, tambah Naning, harus ada yang punya inisiatif untuk ke atas mengurus perkembangan selanjutnya, jangan semua menunggu durian runtuh saja. “Perjuangan untuk mendapatkan gedung itu kan sudah lama dan sangat sulit. Lah sekarang kan tinggal beberapa langkah lagi selesai. Maka dari itu harus ada yang mengayunkan langkah pertama untuk mendorong gedung ini segera berfungsi. Segera!” tandas guru SMAN 2 Bandarlampung itu.

Seperti diberitakan sebelumnya gedung ii mulai mengkhawatirkan kondisinya, karena tidak ada penjaga yang mengamankan aset miliaran ini, dan dibiarkan kosong dengan beberapa jendela dan pintunya sudah mulai rusak. (R-01)