Gedung Kesenian DKL Tak Dijaga, Pompa Air Nyaris Hilang

18 Juli 2014 - 14:09:03 | 1678 | SENI & BUDAYA

DL/18072014/Bandarlampung

Impian para seniman Lampung untuk memiliki gedung kesenian baru yang representatif, tampaknya harus ditunda untuk beberapa lama lagi. Pasalnya, salah satu gedung kesenian yang dibangun dalam proyek multi years di kawasan PKOR Way Halim, hingga kini masih terbengkelai.

Gedung yang dari luar sudah tampak selesai itu memang belum sepenuhnya beres. Secara fisik memang sudah selesai 90%, tinggal finishing di beberapa tempat saja, seperti pemasangan lampu panggung dan beberapa peralatan lain.

Yang miris adalah beberapa bagian dari gedung ini sudah mulai rusak dan ada yang dirusak oleh tangan-tangan jahil. Ini disebabkan gedung ini tidak ditunggu atau dijaga sama sekali baik oleh penjaga malam atau petugas yang khusus menjaga gedung ini.

Menurut Agung, salah seorang pegawai Dispora yang bertugas di gedung Sumpah Pemuda, beberapa meter dari gedung kesenian itu mengatakan bahwa sejak dinyatakan selesai pembangunannya, gedung itu memang tidak dijaga oleh siapapun. “Tidak pernah ada yang menjaga atau merawatnya,” katanya.

Suatu malam, Agung yang berinisiatif  keliling di gedung baru itu, terkejut melihat pintu ruang pompa air sudah terbuka dan gemboknya dirusak. Ketika melongok ke dalam ruangan, ternyata pompa air itu sudah lepas dan tinggal satu pipa saja yang belum digergaji. “Entah kenapa ya, malam itu saya iseng saja keliling di gedung itu, karena memang letaknya berdekatan dengan tempat tinggal saya. Saya terkejut melihat beberapa pintu di belakang terbuka, dan kaca pecah. Dan di ruang pompa air juga terbuka, gemboknya rusak. Mesin pompa air itu tinggal terkait di satu pipa, dan siap angkat. “ katanya.

Pagi harinya pompa air yang diperkirakan berharga Rp2,8 jutaan itu dititipkan ke kantor Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang berada di depan gedung kesenian itu. “Saya titipkan ke penjaga DKL kantor lama, biar aman,” kata Agung.

Memang nyatanya gedung itu seperti tidak bertuan, lantainya penuh debu. Di beberapa bagian sangat kotor, dan lebih dari 8 jendela bisa dibuka dari luar, bahkan jendela-jendela yang di lantai atas pun sudah terbuka.

Yang miris, satu pintu belakang kacanya hancur, tampaknya dipukul dengan balok. Dan beberapa lampu hilang dari tempatnya. Dan beberapa pintu aluminium juga jebol.

Gedung ini tampaknya sering dipakai untuk bermain petasan di ruang tengahnya, karena ada serpihan kertas petasan.

Ketika disinggung apakah sering dipergunakan untuk perbuatan mesum, Agung tidak bisa memastikan, karena beberapa bulan terakhir gelap gulita, listrik di gedung ini menggunakan sistem pulsa. “Kalau itu saya gak tahu, tetapi kemungkinan itu sangat terbuka, mengingat banyak sekali jendela dan pintu dari beberapa ruang ini sudah terbuka dari luar.” Katanya.

Memang sangat disayangkan, proyek yang dibangun dengan uang rakyat miliaran rupiah itu tidak cepat dipergunakan atau diserah terimakan dan dipergunakan semestinya. (R-01)