Kepsta RRI Bandarlampung, Kroncong Gak Boleh Mati

07 Juli 2014 - 01:04:39 | 1770 | SENI & BUDAYA

DL/07072014/Bandarlampung

Jenis musik keroncong yang hidup di Indonesia sejak puluhan tahun lalu, sampai kini ternyata masih cukup ingar bingar. Dan meskipun tersendat dalam regenerasi, namun sampai saat ini masih lestari. Salah satunya beberapa media yang dengan sukarela dan penuh semangat memberikan ruang yang cukup bagi seni dan seniman keroncong.

Di provinsi Lampung, musik keroncong menjadi sebuah alternatif genre yang dimainkan oleh para seniman, yang bukan saja orang-orang Jawa, tetapi sudah merebak ke semua etnis yang ada di sana.

Terbukti beberapa penyanyi keroncong justru banyak dari seniman-seniman yang dari etnis Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan serta daerah lainnya, bahkan warga keturunan Tiongkok.

“Musik keroncong ini milik Indonesia dan harus tetap hidup di bumi Indonesia, Maka tidak akan memilah bahwa musik keroncong ini musik orang Jawa dan sebagainya. Musik keroncong adalah genre atau jenis musik, maka mainkan saja, jangan berfikir ruwet. Pokoknya keroncong tidak pernah mati.” kata Sofie, kepala stasiun RRI Bandarlampung, dalam sebuah kesempatan pagelaran “Kroncong Never Die” di studio 2 RRI setempat.

Memang RRI Bandarlampung bekerjasama dengan para seniman keroncong di Lampung sedang menggagas sebuah pentas rutin yang akan dimainkan setiap Sabtu malam minggu kedua setiap bulannya. “Kami sedang mencari format yang tepat untuk membuat acara keroncong ini lebih semarak,” kata Sutrisno, salah seorang pengarah acara musik di RRI tersebut.

Pada pentas perdana beberapa waktu lalu, tampil orkes keroncong Puspita Nada dari Kota Metro, pimpinan Bambang, yang menampilkan lagu-lagu keroncong asli dengan para penyanyi dari berbagai kalangan. “Ada beberapa penyanyi yang ditampilkan, ada yang mantan bintang radio RRI tahun 2000an, ada wartawan, ada pengusaha dan ada mantan gubernur Lampung, pokoknya kami siapkan acara ini untuk semua orang yang cinta dan simpati dengan musik keroncong,” ungkap Fahri Zulfikri, salah seorang penata acara Kroncong Never Die, RRI Bandarlampung.

Dengan memberikan ruang dalam sebulan sekali berdurasi 2 jam, diharapkan mampu memberikan kesempatan berkembang bagi musk keroncong di Lampung. Bahkan dalam penampilan keroncong itu diselingi dengan talkshow ringan yang membahas mengenai banyak hal yang sedang hangat saat itu.

Sementara itu, mantan gubernur Lampung, tahun 1999, Oemarsono, yang juga seniman Indonesia, menyempatkan hadir dan bernyanyi dalam acara tersebut. Ia mengaku kangen dengan kesenian Indonesia semacam ini. “Ini acara yang membuat rindu berkesenian. Sangat perlu didukung, karena komunitas ini cukup besar. Ini kesenian Indonesia jadi kewajiban kita semua untuk melestarikannya,” ujar Oemarsono.

RRI tidak hanya menyiarkan secara langsung acara tersebut dalam format baku RRI dengan suaranya, namun juga ditayangkan secara live dan real time melalui RRI Streaming TV. Saat itu siarannya juga dipantau langsung oleh direktur utama RRI Pusat, Niken Widyastuti yang sedang berada di Jerman.

Sofie mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus bangga mempunyai banyak jenis seni budaya. Mumpung belum diakui oleh bangsa lain, maka Indonesia harus membangun format keseniannya agar tetap lestari dan mengakar serta diregenerasi dengan baik. “RRI akan memberikan ruang buat keroncong, agar sekali lagi, keroncong tidak pernah mati,” ungkapnya bangga. (R-01)