X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Pembunuhan Sadis Terinspirasi Adegan Film

  • dibaca 7858 kali

    DL/21032014/KOTA METRO

    Pembunuhan sadis siswa SMA Taruna Gajah Mada Metro, Firda Okta Primayanti (18), 14 Maret lalu, terencana matang. Pelaku mengakui eksekusi mantan pacarnya seperti adegan film. Tersangka bahkan berupaya menghilangkan sidik jari dengan persiapan sarung tangan.

    Firda Okta Primayanti, warga Dusun III Gelagahrejo, Desa Metro Kibang, Lampung Timur, ditemukan tewas mengenaskan di Bumi Perkemahan Sumbersari Bantul, Kecamatan Metro Selatan. Tersangka pembunuh adalah Ambar Priyoko (20), mantan pacarnya. Pelaku menghabisi korban karena dendam dan cemburu. Korban memutuskan cinta dan diketahui memiliki pacar baru.

    Wawancara reporter detiklampung.com di Ruang Kasat Reskrim Polres Metro AKP Eko Nugroho, Kamis (20/3), mengungkap motif dan modus pembunuhan. Ambar Priyoko tak tahan mendendam dan cemburu begitu Firda memutuskan hubungan asmara tiga hari sebelum pembunuhan. Pelaku juga tak bisa menerima mantan pacarnya memiliki kekasih baru.

    Pembunuhan bahkan terencana matang. Pelaku mempersiapkan tali, bayonet, dan sarung tangan. Ia menemui Firda sesuai janji di Bumi Perkemahan Sumbersari. Mereka sebenarnya janjian ketemu Selasa (1/3), namun baru sempat tiga hari kemudian.

    Pelaku berdalih pembunuhan itu atas permintaan Firda sendiri. Menurut Ambar Priyoko, korban ketakutan bila pelaku menemui orang tuanya untuk meminta restu hubungan asmara. “Firda memang minta dibunuh. Ia bilang ikhlas (dibunuh) asal saya tidak menemui orang tuanya. Dia pasrah lehernya saya jerat,” kata Ambar Priyoko.

    Tersangka menelepon berturut-turut,  namun Firda tak menjawab. Mereka sepakat bertemu di lokasi melalui SMS hari berikutnya. “SMS (Firda) minta dibunuh. Sebelum saya eksekusi, dia sempat saya tanya ‘beneran nih ikhlas saya bunuh’. Firda mengiyakan, malah dia bilang mumpung hari Jumat cepetan bunuhnya.”

    Iris Urat Nadi

    Modus pembunuhan Firda terinspirasi adegan film di televisi. Ambar Priyoko tanpa rasa takut mengeksekusi korban dengan tali nilon, bayonet, dan sarung tangan. Ia jerat kuat-kuat leher korban dari belakang hingga lemas. Tubuh Firda ia tarik ke semak-semak dan segera ditutupi dedaunan kering.

    Dua penembak burung, Paino dan Lukman, memergoki pelaku. Ambar Priyoko mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menelepon soal lokasi rumput untuk pakan ternak. Pengalihan berhasil dan dua saksi pergi.

    Tersangka melihat Firda masih bernafas. Ia bergegas memotong urat nadi korban dengan bayonet. “Saya potong urat nadi dua tangannya supaya cepat mati,” sergah Ambar Priyoko dengan enteng.

    Tersangka mengeksekusi dengan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari dan memutus pelacakan. Pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan membuang peralatan sekolah Firda ke Sungai Way Sekampung. Motor korban juga disembunyikan di semak-semak.

    Kepolisian menangkap Ambar Priyoko di rumahnya lima jam setelah pembunuhan.  Tersangka dijerat pasal 340 junto 338 KUHP tentang pembunuhan terencana dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau minimal 20 tahun. Unsur pembunuhan terencana terpenuhi karena pelaku telah menyiapkan pisau dan tali.

    Kasus pembunuhan segera terungkap setelah polisi memeriksa dua saksi, Paino dan Lukman, memergoki pelaku kabur dengan motor Honda Supra tanpa plat.(rd-07)

  • Berita Terkait

  • Lampung Pastikan Ikut PON Remaja

    Rycko Kunjungi Daily Farm Susu Sapi Perah

    Terima Kalungan Bunga

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar