Mukadimah : Merajut Makna Di Hari Yang Fitri Melalui Maiyah

04 Juni 2019 - 13:16:38 | 9855 | HUMANIORA

DL/04062019/Bandarlampung

---- Perjalanan ramadan melalui awal, pertengahan, dan akhir ramadan yang puncaknya pada hari kemenangan. Masyarakat muslim di dunia telah usai melewati perjalanan ramadan hingga pada puncak ramadan dan tibalah waktunya untuk sampai pada hari kemenangan yaitu Idul Fitri. Hari kemenangan umat islam yang ditunggu-tunggu, kemenangan  dalam arti spiritual, yang mengalahkan semua nafsu manusia baik secara kebutuhan fisik manusia hingga batin manusia, untuk tujuan mencari ridho Allah.

Fenomena hari raya selalu membuat kerinduan tersendiri bagi umat islam di Indonesia, hari dimana semua anggota keluarga akan kembali dan kumpul di kampung halaman, tradisi mudik menjadi salah satu tradisi yang sudah ada secara turun temurun dan hanya ada di Indonesia, bahkan orientasi pembangunan infrastruktur pemerintah, meliputi seluruh sarana transportasi semua ditargetkan untuk pelayanan persiapan tradisi mudik. Tradisi mudik juga merupakan simulasi untuk umat manusia kembali sadar akan perjuangan untuk kembali kepada Allah.

Hakikat manusia juga inginnya tidak sendiri, kumpul sosial yang tidak pernah putus dari silaturahmi, untuk melepaskan persoalan hidup. Ditrah kembali menjadi jati diri manusia untuk merajut makna di hari yang fitri. Dengan ketersambungan tali silaturahmi yang dirangkai, akan menjadikan manusia sadar akan kesejatian hidup untuk melihat kembali akan asal mula dirinya yang sejati. Jika kesadaran itu sudah tumbuh, maka yang terjadi adalah tumbuhnya nilai toleransi dan kebersamaan manusia dengan seluruh makhluk Allah.

Setelah ramadan dan Idul Firti, kita semua  mengenal budaya halal bihalal yang hanya ada di Indonesia yang dicetuskan oleh Kiai Wahab Chasbullah, halal bihalal mengajarkan manusia untuk menjadi bayi kembali, menjadi bayi yg bersih dan suci kembali. Dengan kebersihan dan kesucian yang diberikan oleh Allah, maka manusia harus menjaganya untuk terus menjadi manusia yang mengikuti Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan ridho Allah.

Dalam seluruh perjalanannnya, manusia memiliki kesadaran untuk merajut makna setiap lini kehidupan, termasuk untuk memaknai hari raya Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan. Kembali menjadi fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi manusia sejati, menyusun harapan untuk kembali pada Allah dengan kasih sayang-Nya.

Para Orang tua mengarahkan anak-anak untuk tidak mengambil jalan pikiran menjadikan majusi atau nasrani, melainkan menjadikan Islam yang rahmatan lil alamin, dengan  harapan untuk tetap berada di jalan sunyi untuk masuk di goa maiyah yang sesungguhnya, hingga kemudian pada saatnya bisa keluar menjadi pemimpin dunia.

Maiyah Dualapanan kali ini mengajak semua untuk Sinau Bareng Bersama Gus Sabrang MDP dengan tajuk Merajut Makna Di Hari Yang Fitri, pada hari Sabtu, 8 Juni 2019, Pukul 20.00 WIB, di Ponpes Al-Muttaqien, Kemiling, Bandar Lampung - Lampung. (Ryan)