Impor Minyak Tak Terhindarkan

14 Februari 2014 - 11:25:03 | 2502 | BERITA DAERAH

DL/14022014/JAKARTA

Cadangan minyak Indonesia bakal habis dalam 12 tahun karena hanya tersisa 3,7 miliar barrel atau 0,3 persen cadangan dunia. Kebijakan impor tak terhindarkan jika konsumsi BBM nasional tetap tinggi dan tidak ditemukan energi alternatif.

Direktur Reforminer Institute mengungkap data cadangan minyak Indonesia tipis dan bakal tergantung impor. Produksi minyak kini hanya 830.000 barrel per hari. Sementara kebutuhan mencapai 1,2 juta barrel. Kekurangan itu ditutup dengan impor.

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prof. Dr. Suhardi menyebut ketahanan energi Indonesia memprihatinkan. “Cadangan minyak segera habis. Sedangkan konsumsi BBM nasional sangat tinggi. Jika hal ini dibiarkan terus- menerus maka kita hanya bisa mengandalkan impor," katanya.

Prof. Suhardi menghendaki kebijakan energi Indonesia mengarah ke pengembangan sumber energi alternatif bahan bakar nabati (BBN).  Bahan bakar fosil seperti minyak bumi suatu saat habis, sementara BBN atau bioethanol adalah sumber energi dapat diperbaharui.  Partai Gerindra melalui Program Enam Program Aksi Transformasi bangsa membangun kedaulatan energi dengan memanfaatkan BBN. Program ini bisa berjalan jika mendapat mandat rakyat.

Gerindra mempunyai program cetak dua juta hektar lahan baru untuk menanam aren, ubi kayu, ubi jalar, sagu, sorgum, kelapa, kemiri, dan bahan baku bioethanol dengan system tumpang sari. Lahan baru ini memperbaharui hutan rusak. Program ini sekaligus menyerap 12 juta tenaga kerja.

Prof. Suhardi juga mengungkap perlunya keberanian dalam mengatasi permasalahan energi. “Seumur hidup bangsa Indonesia akan impor minyak jika energi alternatif seperti bioethanol tidak dikembangkan. Partai Gerindra menjamin pengembangan energy alternatif pasti dijalankan jika rakyat Indonesia memberi mandat."(rd-10)