Rakyat Sudah Lelah, Tak Mau Dipecah Belah

12 Desember 2018 - 15:24:19 | 17685 | ASTAGA

BANDARLAMPUNG ---- Suara rakyat adalah suara Tuhan. Begitu yang sering diperdengarkan oleh para politikus negeri ini untuk memberikan penajaman bahwa rakyat memiliki andil besar dalam membangun politik di negeri ini.

Namun belakangan dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2019 di Indonesia mulai santer rakyat menjadi konsumsi politik yang layak disebut sebagai dipermainkan, khususnya oleh para elit politik negeri ini.

Dengan memakai berbagai dalih, melalui tagar-tagar yang mulai terlihat terus membesar menjadi isu SARA dan terus sampai sekarang menjadi “perang” yang makin menakutkan.

Rakyat, lagi-lagi menjadi arena untuk dipermainkan karena rakyat sebagai objek yang rentan untuk dimasuki kabar-kabar politik.

Sayangnya, para petinggi negeri ini hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Mengajak rakyat untuk kepentingan mereka sendiri, cari bolo dupak (bala tentara—red) ya bisa disuruh maju dan memenuhi lapangan.

Cari kroco mumet, yang bisa diajak berteriak-teriak lantang, meskipun mereka hanya menerima imbalan yang sangat tidak manusiawi, tetapi mereka mau-mau saja.

Jangan ada yang tersinggung, kalau memang tidak melakukan hal seperti itu. Tapi sinyalemen bahwa negeri ini sudah ramah dengan hal-hal seperti ini, menjadikan sebuah isu dimobilisasi sehingga menjadi kolosal.

Rakyat Mulai Lelah

Ternyata lambat laun rakyat capek juga. Ternyata rakyat mulai sadar juga dan akan kembali normal dan netral lagi, saat semua yang mereka lakukan selama ini hanyalah sebuah cerita karangan para elit berlidah tajam.

Mulai munculnya keberanian untuk meminta jangan dipecah belah justru dari pasar tradisional. Pedagang pasar Tanah Labuan Batu, Sumatera Utara meminta Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno kembali ke Jakarta dan pulang.

Menyuruh Sandiaga pulang, para pedagang menuliskannya di sebuah poster putih yang tergantung di etalase gubuk dagangan. Si pemasang poster diketahui bernama Drijon Sihotang.

"Pak Sandiaga Uno Sejak Kecil Kami Sudah Bersahabat Jangan Pisahkan Kami Gara-Gara Pilpres, Pulanglah!!!," tulis poster tersebut.

Poster ini jangan sekedar dipolitisir, bahwa rakyat menolak Sandiaga secara ferbal. Namun ada pesan yang dalam dari rakyat Indonesia yang sudah lelah dipolitisir, dan diadu domba, dijadikan konsumen berita-berita hoax yang menyesatkan dan cenderung mengadu sesama rakyat ditataran bawah.

Pernyataan Drijon itu merupakan bentuk penolakan agar Indonesia tetap utuh, dan rakyat bersatu.

Pesan moralnya cukup dalam. Karena selama ini, khususnya di Pilpres 2019, kontestan lebih banyak menyebar berita buruk lawan ketimbang mengajukan program dalam visi dan misinya ketika jadi pemimpin kelak.

Masyarakat dijejali dengan berita-berita bohong, menyesatkan dan terus menerus setiap hari tidak ada pencerahan tentang Indonesia ini akan dibawa kemana oleh para pemimpin itu.

Tetapi apa daya, rakyat tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dengan “intimidasi” modern yang disebarkan setiap hari.

Kalau ada sejuta Drijon yang berani mengatakan isi hatinya seperti itu, maka kemungkinan bisa membuat para elit itu berfikir dan mau bertindak sebagaimana seorang negarawan sejati.

Rakyat ingin tahu, apa yang sudah diperbuat si A, dan juga si B dengan konkrit. Janji politik tetap diperlukan meskipun baru seputar janji, namun yang realistis dan tidak hoax.

Tapi yang terjadi sekarang, pekerjaan si A dicela oleh si B. Dan sebaliknya. Yang sudah kerja tetap disalahkan, yang belum kerja disangsikan.

Stop Hoax

Stop berita-berita hoax. Bahkan di grup-grup WhatsApp di kampung-kampung sekarang ini sudah menjadi penyalur berbagai berita yang isinya luar biasa, kasar dan tendensius, walaupun belum tentu benar.

Grup-grup WhatsApp saat ini sudah mulai menjadi penyalur berbagai berita yang isinya menjadikan sangat miris. Ada kecenderungan penyebutan berbagai istilah yang sudah diluar nalar sebagai orang-orang Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah.

Kalau melihat komentar-komentar masyarakat saat ini di grup WhatsApp sudah seperti politikus tingkat tinggi meskipun bahasanya sangat kasar dan menakutkan.

Seolah-olah Negara ini akan terbelah dua saat ini, atau tinggal tunggu waktunya 2019, Indonesia akan terbelah dua, bagian sebelah pendukung A dan sebelahnya pendukung B.

Ini apa ya. Sebagian masyarakat cepat sekali terbakar amarahnya. Sebagian masih biasa saja dengan rutinitasnya, “Ah siapapun pemimpinnya, kita ya seperti ini.” Demikian gumaman sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini.

Kembali pada keberanian Drijon membuat poster itu. Bukan soal menolak Sandiaga nya. Tetapi tidak ingin dipecah belah dengan teman-temannya, saudaranya, bahkan keluarganya. Ini penegasan saja, bahwa rakyat sudah lelah.

Tentu maksud Drijon juga tidak memihak manapun, dan biarkan mereka memilih atas kehendak isi hatinya. Maka dari itu untuk menawarkan kebaikannya, ya silahkan menawarkan programnya dan yakinkan bahwa rakyat percaya.

Bukan menjelekkan sebelah, atau membunuh karakter lawan politiknya. Kita hanya takut, kelak akan mempunyai presiden Hoax juga.

Maka diimbau kepada tim Jokowi maupun Prabowo, silahkan adu jago, dengan cara mengemukakan keunggulan jagonya masing-masing, bukan menjelekkan jagonya lawan dengan mencari-cari pembenaran.

Malah yang makin miris, sekarang mulai mengarah penyerangan terhadap pribadi-pribadi kontestan. Dan ini disebarkan dengan leluasa. Tanpa filter, bisa sampai ke dapur ibu-ibu rumah tangga.

Kalau sudah melakukan kampanye dengan segala cara seperti ini, sudah bukan arena politik saja yang dijajah, tetapi seluruh arena yang seyogyanya tidak boleh dipakai, tetap dipergunakan untuk menebar berita, bahkan hoax semakin luar biasa.

Mau dibawa kemana negeri ini? Mau dibawa menjadi negeri hoax?

(donpecci – detiklampung.com)

foto. Poster suruh pulang Sandiaga Uno di pasar Sumatera Utara. (twitter) suara.com