Kalpataru, Dan Rasa Malu

30 September 2018 - 04:22:49 | 19386 | ASTAGA

eh: Don Pecci

Redaktur Detiklampung.com

Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Kalpataru sendiri adalah bahasa Sanskerta yang berarti pohon kehidupan (Kalpavriksha).

Nama Kalpataru ini diabadikan menjadi nama lapangan yang terletak di kecamatan Kemiling, Bandarlampung. Tanah yang kemudian dipergunakan sebagai fasilitas umum ini berasal dari PT Sinar Waluyo yang membangun perumahan di kawasan kecamatan Kemiling.

Tanah fasilitas umum itu, kemudian oleh warga dijadikan lapangan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dalam perjalanan sejarah lapangan ini kemudian secara sporadic dilakukan pembangunan beberapa kali, namun tidak ada perawatan dari pihak Kecamatan.

Lapangan Kalpataru digagas tahun 1980-an, dengan semangat gotongroyong warga perumahan Beringin Raya yang kala itu baru saja dibangun oleh PT Sinar Waluyo sebagai pelopor perumahan rakyat di Lampung.

Lapangan sepakbola yang selama ini dipergunakan oleh warga sebagai tempat pembibitan pemain muda dan sempat menjadi sebuah tim sepakbola yang cukup disegani di Kota Bandarlampung, pada masa jayanya mampu menelorkan pemain-pemain andal di Bandarlampung khususnya dan Lampung pada umumnya.

Namun seiring jalannya waktu pula, lapangan ini kian terabaikan. Meski sempat dibangun sebuah RTH, yang kini masih tersisa puing-puingnya, dan beberapa fasilitas lainnya seperti pos jaga dan kamar mandi.

Ini semua tinggal sisa-sisa tak terpelihara.

Satu hal yang menjadi krusial adalah tentang pengelola yang tidak jelas. Kabarnya, Kecamatan Kemiling dan Kota Bandarlampung menjadi pemilik domain, pengelola.

Tetapi sama sekali tidak mengurusinya, bahkan membiarkan ada lokasi pembuangan sampah yang jelas tidak sesuai dengan peruntukan fasilitas umum dan RTH.

Tetapi lagi, pemerintah kecamatan dan pemerintah Kota sama sekali tidak bergeming soal sampah yang mencemari lokasi dan pemukiman warga.

Saya tidak mengerti sama sekali. Apa menunggu warga demo, baru ada tindakan pemindahan lokasi pembuangan sampah, atau bagaiman cara berfikir para penguasa di sini.

Jelas-jelas ini lokasi yang dipergunakan warga untuk berolahraga, masih didiamkan saja ada sampah di lokasi yang sama. Baunya, Asapnya sangat merugikan kesehatan bagi yang berolah raga.

Rasa malu pemerintah Kelurahan dan Kecamatan yang berada dan berkantor di lokasi yang sama, tidak tampak sedikitpun dalam menyikapi sampah ini.

Auto Pilot

Sudah berapa pejabat Camat di Kemiling, tampaknya tidak ada yang peka terhadap dampak lingkungan yang buruk akibat sampah di pinggir lapangan itu. Sebenarnya siapa sich yang diuntungkan dengan tumpukan sampah itu?

Kenapa ya, kok pada diam semua. Padahal ini sangat krusial, seiring minat warga yang sangat tinggi terhadap olahraga, terutama di lokasi jogging trek seputar lapangan Kalpataru.

Bahkan para pekerja di lokasi tempat sampah itu dengan tenangnya membakar sampah setiap pagi saat orang sedang berolahraga di sana. Ini benar-benar intoleransi yang terpelihara.

Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada nilai positifnya sedikitpun tempat sampah itu ada di sana, kecuali untuk segelintir orang pekerja di sana. Lebih banyak yang dirugikan karena Baunya sangat menyengat, asap dari pembakaran sampah yang mencemari udara pagi yang bersih. Keduanya sangat merugikan warga dalam jumlah besar dan permanen.

Ada warga yang pernah menyentil saat mengobrol di lapangan, bahwa Kemiling ini berjalan auto pilot, artinya tanpa ada pejabatnya pun masyarakat sudah bisa jalan sendiri dalam penataan perekonomian, peribadatan, olahraga dan beberapa aspek kehidupan lainnya.

Pembinaan dan penataan seharusnya sudah dilakukan oleh pamong setempat. Karena bagaimanapun lokasi itu bukan untuk tempat sampah, tetapi tempat olahraga dan kuliner.

Kondisi yang selama ini kumuh, bahkan di depan kantor Camat dan Lurah, seperti tidak mempengaruhi para pejabat perpanjangan tangan Negara ini. Lalu apa yang dipikirkan yaa..

Memang benar-benar seperti auto pilot di Kemiling ini. Hanya kegiatan-kegiatan besar saja yang ditengok. Kegiatan besar yang memakai lapangan karena sewanya juga besar, tapi sesudah itu kebersihan saja tidak diperhatikan.

Siring di seputar lapangan sudah bukan seperti fungsi awalnya karena sudah tertutup sampah. Dan akhirnya tiba kesabaran yang tak kuasa ditahan lagi dari warga, dan membentuk komunitas pecinta Kalpataru, dan mulai membersihkan lokasi olahraga ini dengan sukarela.

Kemana Negara ini hadir?

Yaa kalau lapangan dipergunakan untuk even besar dan disewa, maka mereka serta merta hadir mengutip uang sewanya. Ahaayy

Kalau hanya begini ya semua kita bisa lah. Artinya, memang tidak ada pemikiran sama sekali untuk memperbaiki apalagi menyempurnakan lokasi ini bisa menjadi lebih baik dan mendatangkan manfaat bagi banyak pihak.

Sport Center

Lokasi yang tidak dimiliki oleh 19 Kecamatan lain di Kota Bandarlampung ini, seharusnya bisa dimaksimalisir menjadi lokasi yang semi komersial, kalau mau. Kenapa tidak?

Kenapa tidak ditata sedemikian rupa untuk dijadikan pusat olahraga dan kuliner yang justru akan memberikan manfaat lebih kepada masyarakat sekitar.

Bisa dijadikan Kalpataru Sport Center. Di sini ditata ulang dengan membersihkan bangunan di depan lapangan untuk dipindahkan ke dalam dan tidak memberikan kesan kumuh bagi lapangan Kalpataru.

Pihak kelurahan Beringin Raya atau Beringin Jaya dan Kecamatan Kemiling punya kemampuan dan kewenangan untuk menata ini jauh lebih baik, dari pada hanya menerima sewa beberapa usaha kecil yang ada di depan dan tidak memberikan kesan indah pada Kalpataru.

Harus ada kecerdasan di sini. Harus ada keberanian dan kreativitas dari para pamong di sini.

Saya tidak tahu apakah kelurahan di Kemiling ini dapat dana desa atau tidak. Kalau tidak, tentu pamong bisa membicarakannya dengan warga untuk mencari solusi pembiayaan tentang penataan lokasi yang langka ini.

Kalau dapat dana desa, nah. Dipergunakan dimana nih? Rasanya dengan membangun fisik lapangan Kalpataru menjadi pusat kegiatan olahraga dan kuliner, akan jauh bermanfaat karena mendatangkan keuntungan di beberapa sudut usaha.

Menata kawasan ini dengan tepat juga akan menyenangkan warga, bahkan akan menjadi pilihan warga sekitar untuk berkegiatan positif di kawasan ini.

Jangan Cuma seneng mengucapkan slogan Kalau tidak kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Sudah basi.

Lakukan saja oleh kita mulai dari hal-hal kecil yang bermanfaat. Bisa?

Kenapa tidak bisa?

Astagfirullah…