PT KAI Gelar FGD dengan Puluhan Awak Media

31 Agustus 2018 - 19:45:28 | 11772 | HUMANIORA

DL/31082018/Bandarlampung

---- Menyikapi polemic yang belakangan mencuat kepermukaan atas asset PT Kereta Api Indonesia (KAI), maka dengan inisiatif untuk memperjelas persoalannya melalui PT KAI Divre IV Tanjungkarang Lampung, diselenggarakan Focus Discussion Group (FGD) dan Media Gathering dengan tema "Mengenal Lebih Dekat Tentang Gronkaart dan Aset KAI".

Acara ini digelar di meeting room Grand Elty Krakatoa, Kalianda, Lampung, Rabu 29 Agustus 2018, yang menghadirkan puluhan wartawan dari berbagai media cetak, elektronik dan online di Lampung.

Empat narasumber yakni Dr. Harto, Staf Ahli Direktorat aset tanah dan bangunan, Nur Marzuki, Staf Ahli Direktorat Aset Tanah dan Bangunan, serta Direktur utama PT Kereta Api Pariwisata, Toto Suryoni dan Kepala Deputi PT KAI divre IV Tanjung Karang Asdo Artri Viyanto.

Sebelumnya, PT KAI mengajakan wartawan melakukan peninjauan ke lokasi aset PT KAI yang berada di daerah Srengsem Panjang, Bandarlampung. Usai melakukan peninjauan acara dilanjut dengan tanya jawab FGD dan Media Gathering

yang bertujuan untuk memberi pemahaman tentang aset kereta api di Indonesia khususnya diwilayah Divre IV Tanjungkarang.

Kemudian dilanjutkan sosialisasi Aset dengan narasumber DR Harto untuk menambah wawasan terkait aset yang menjadi polemik masyarakat.

Pihak PT KAI mengaku terbuka jika harus duduk bareng dengan Anggota DPD RI Andi Surya untuk berdiskusi terkait Lahan groundkaart Belanda 1913 yang di miliki  PT. KAI sebagai asetnya yang saat ini masih berkonflik dengan masyarakat diwilayah Lampung.

Pihaknya mengaku siap jika diundang untuk menjelaskan groundkaart. Ia menjelaskan pihak KAI pada bulan febuari 2017 sudah bertemu dengan Andi Surya, untuk berbicara masa depan perkeretaapian pada waktu itu ternyata pembahasannya menyimpang dari tema dan pihaknya juga dibatasi berbicara dan itu langsung dihadiri oleh Walikota serta Kadin yang hadir saat itu juga.

Selanjutnya, mengenai aset PT KAI yang berada di daerah Srengsem Panjang, Bandar Lampung, lantaran tidak terawat dengan baik, maka pihaknya berencana akan kembali mengelola aset ini.

Lokasi ini direncanakan jadi tempat pengembangan angkutan PT KAI, namun belum diketahui seperti apa peruntukannya. (ver)