Pakar Royal Botanic Garden: Konservasi SDG di Bank Gen Pilihan Tepat

29 Agustus 2018 - 20:08:14 | 67311 | NASIONAL

DL/29082018/Bogor

---- Pengelolaan koleksi Sumber Daya Genetik (SDG) atau plasma nuftah di lapang merupakan pekerjaan yang sangat berat. Konservasi di bank gen benih dan in vitro merupakan pilihan tepat untuk menjamin ketersediaan koleksi dalam jangka menengah dan panjang.

Hal tersebut diungkapkan Prof Hugh W. Pritchard dari Royal Botanic Garden KEW, Inggris saat mengunjungi Bank Gen Balitbangtan, di BB Biogen, Bogor.

Saat kunjungan, Pakar konservasi benih yang telah lama terlibat dalam proyek Millenium Seed Bank ini didampingi Dr. M. Sabran (Direktur SmartD Project), Dr. Sustiprijatno (Kabid KSPHP) serta beberapa peneliti konservasi dari BB Biogen.

Kunjungan yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI ini diawali diskusi tentang teknis pengelolaan bank gen khususnya benih.

Poin pentingnya adalah memastikan kualitas benih sebelum dan selama proses konservasi untuk menjamin ketersediaan benih yang dapat ditumbuhkan kembali setelah penyimpanan.

 Bank Gen Balitbangtan yang beroperasi sejak 2016 ini memiliki fasilitas penyimpanan benih jangka pendek working collection pada suhu 14-16°C, jangka menengah medium term pada suhu 4°C serta penyimpanan jangka panjang pada suhu -20°C untuk benih dan pada suhu -80°C untuk DNA.

Eksplorasi

Saat ini, Bank Gen Balitbangtan telah menyimpan lebih dari 12.000 aksesi dari 20 lebih spesies tanaman pangan, yang terdiri atas berbagai jenis serealia (padi, jagung, gandum, sorgum, jewawut, hanjeli dan wijen), aneka kacang (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang tunggak, bambara, komak, gude dan kacang nasi), serta aneka ubi (ubikayu, ubijalar, talas, belitung, ganyong, garut, ubi kelapa, gembili, kentang hitam, suweg dan iles-iles). Selain itu terdapat koleksi tanaman hortikultura, perkebunan dan pakan.

Semua koleksi diperoleh dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri baik melalui eksplorasi, pertukaran, introduksi, penitipan, atau hasil pemuliaan yang berupa aksesi spesies utama dan kerabat liar, ras dan varietas lokal, serta galur dan varietas hasil pemuliaan.

Selain SDG atau plasma nutfah tanaman, Bank Gen Balitbangtan juga menyimpan sekitar 1.400 aksesi koleksi mikroba pertanian. Ke depan juga diharapkan dapat mengkoleksi material genetik ternak.

Untuk menjamin ketersediaan koleksi dalam jangka menengah dan panjang, BB Biogen sedang intensif melakukan penelitian supaya menghasilkan teknologi pertumbuhan minimal dan kriopreservasi untuk konservasi jangka menengah dan panjang. Kesiapan SDM dan teamwork sangat penting dalam mendukung aplikasi rutin teknologi tersebut di bank gen, terutama kriopreservasi.

Prof Hugh menekankan kualitas awal benih dan penanganan sebelum penyimpanan harus sangat diperhatikan karena sangat menentukan umur simpan dan kualitas benih selama penyimpanan. Variasi karakter benih, baik secara morfologi (bobot, ukuran, proporsi), kandungan kimia (jenis dan kadar lemak) serta sifat benih (ortodoks, rekalsitran, intermediate) juga perlu dicermati karena menjadi penentu jenis metode dan kondisi simpan yang efektif untuk menjamin benih dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa mengalami banyak penurunan kualitas.

Indonesia adalah negara tropis dengan kelembaban tinggi sehingga perlu upaya lebih besar dalam mempertahankan RH benih pada 15-30% sehingga umur simpan benih menjadi lama. RH selama proses pengeringan benih itu lebih penting daripada RH ruangan.

Jadi strateginya adalah menurunkan RH benih, kemas benih dengan metode dan menggunakan bahan yang dapat menstabilkan RH benih dan simpan. 

Pada akhir kunjungan, Prof Hugh menekankan pentingnya menjaga benih pada kelembaban rendah dan identifikasi perubahan fase kandungan lemak pada berbagai suhu dengan alat differential scanning calorimetry untuk menentukan teknik penyimpanan yang optimal, baik secara dry storage maupun kriopreservasi. (D/Ha/Ro)