Djeni: Pelatih Harus Pelopori Nilai Sportivitas Di Lapangan

26 Agustus 2018 - 17:44:06 | 42282 | FUTSAL MANIA

DL/26082018/Kota Metro

----- Djeni Sutisna, Exco Organisasi dan Legal Asosiasi Futsal Provinsi Lampung menegaskan bahwa seyogyanya para pelatih futsal memberikan contoh sportivitas yang berlaku di lapangan, dan tidak memprovokasi tim nya untuk bermain yang unsportif.

Ini diungkapkan Abah, panggilan akrab Djeni Sutisna disela menyaksikan partai final Liga Nusantara Futsal (LNF) zona Lampung 2018 yang berlangsung di Giga Futsal Arena, Kota Metro, Minggu 26 Agustus 2018.

Djeni yang juga menangani komisi wasit PSSI Lampung itu menegaskan bahwa sportivitas itu penting dalam olahraga cabang apapun, baik yang full body contact maupun yang tidak. “Dalam futsal yang memang rawan benturan dan senggolan antar pemain, diperlukan mental-mental yang sportif. Pemain yang ada di lapangan juga harus jujur, kalau dia melakukan pelanggaran ya harus menerima putusan wasit,” katanya.

Dalam hal mengawal pertandingan, pelatih juga harus menempatkan diri sebagai seorang pelatih yang fokus menangani taktik dan strategi timnya dan tidak mencampuri tugas wasit yang memimpin pertandingan.

“Di sepakbola maupun di futsal atau pertandingan apa saja sama. Tugasnya pelatih yang untuk memperhatikan timnya, bukan lebih banyak mengurusi tugas wasit. Sedikit-sedikit protes dan menanyakan keputusan wasit. Cobalah mulai berfikir positif, para pelatih ini. Jangan mendahulukan kecurigaan kepada wasit terus. Semua ada tugas dan kewenangannya sendiri. Kalau pelatih selalu protes sama wasit, ya pimpin aja sendiri pertandingannya, gak usah pakai wasit,” ujarnya.

Djeni mencontohkan, betapa tim nasional sepakbola Indonesia yang mendapatkan hukuman tendangan penalty sampai dua kali itupun kubu Indonesia tidak banyak melakukan protes kepada wasit asal Australia itu.

Diterima saja keputusan yang meski mengandung kontroversi, namun tidak melakukan protes berlebihan. “Contohlah yang professional. Jangan menghalalkan segala cara untuk ingin memenangi pertandingan. Saya berharap teman-teman pelatih mulai berfikir dewasa dan profesional. Kalau pelatih masih berfikir cetek, maka seperti katak dalam tempurung. Sepakbola dan Futsal Lampung tetap akan jalan ditempat.” Kata Abah.

Cari Kambing Hitam

Abah Djeni menegaskan, mental-mental untuk selalu cari kambing hitam dan menyalahkan orang lain itu membuat iklim olahraga menjadi tidak berkembang.

“Tanpa ada iklim sportivitas yang tinggi, pembinaan olahraga ini tidak akan mengalami kemajuan. Jangan menyalahkan pengurus Asosiasi atau perkumpulan olahraganya saja. Kalau masih tetap ada mental-mental pelatih yang tidak sportif, tetap saja ini akan menghambat pola pembinaan olahraga. Karena para pelatih seperti ini biasanya mencuci otak para pemainnya dengan pola pikirnya pelatih sendiri. Kasihan anak-anak muda yang punya potensi, jika terus berada dikungkungan kepelatihan yang semacam ini,” ujar Abah.

Maka dari itu diimbau agar para pelatih, pengurus klub dan punggawanya mulai berfikir melakukan pembinaan yang baik, bukan berfikir hanya untuk kemenangan semata.

“Kemenangan itu diperoleh dengan proses yang baik. Latihan yang baik dan benar, pembinaan mental yang benar, pembinaan fisik yang benar. Jadi tidak ada yang instan dalam pembinaan olahraga ini,” kata Djeni.

Abah menegaskan saat ini yang diperlukan di Lampung adalah komitmen pengurus perkumpulan yang punya wawasan luas dan pengembangan serta pembinaan para pemain muda, bahkan perangkat pertandingan yang muda-muda namun tetap berwawasan yang mumpuni.

Maka dari itu, Asosiasi Futsal Provinsi Lampung misalnya, selalu memberikan kesempatan untuk pengembangan pelatih maupun wasit untuk menimba ilmu dan meningkatkan kualitasnya.

“Kan sering kita adakan kursus pelatih untuk level nasional dan AFC. Pelatih kita sudah puluhan di Lampung baik yang sertifikat nasional maupun beberapa yang AFC 1. Sebenarnya ini modal penting untuk meningkatkan kualitas dan prestasi pemain futsal di Lampung,” tutur Abah.

Maka tidak ada alasan lagi untuk futsal dan sepakbola di Lampung jalan ditempat. (Dedi)