Dua PTN Lampung Diduga Tabrak Aturan Rasio Dosen Dalam Rekrutmen Mahasiswa

18 Agustus 2018 - 02:28:15 | 34155 | PENDIDIKAN

DL/18082018/Bandarlampung

---- Fenomena Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru di Lampung (ITERA dan UIN) menjaring mahasiswa baru tanpa batas (kuota) memunculkan persoalan rasio dosen terhadap mahasiswa.

Di sisi lain, fasilitas yang dimiliki seperti laboratorium, perpustakaan, dan kapasitas bangunan kampus juga belum layak untuk melayani ribuan mahasiswa baru maupun angkatan lama.

Peraturan Menristekdikti terkait rasio dosen PTN terhadap mahasiswa adalah 1:20 untuk eksakta dan 1:30 untuk ilmu sosial.

Terkait ini, Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (ABP PTSI) Lampung, Andi Surya, yang juga anggota DPD RI asal Lampung, buka suara.

"Bisa diterangkan, saya mendapat laporan dari APTISI, APPERTI dan ABPPTSI yang merupakan asosiasi masyarakat PTS Lampung, kedua PTN yang baru beroperasi ini patut diduga melanggar kaidah rasio dosen terhadap mahasiswa.” Katanya.

Ribuan mahasiswa baru diserap perguruan tinggi negeri ini, apakah PTN ini bisa mengungkap jumlah dosen berbanding mahasiswanya, baik yang baru maupun angkatan lama.

“Logika saya karena ini PTN dibiayai negara, ada hasrat kuat dari Pimpinan PTN ini untuk memperbanyak jumlah mahasiswa dalam rangka menarik anggaran APBN masuk ke kampus. Padahal keberadaan PTN-PTN seperti ini seharusnya lebih mengarah kepada upaya menciptakan kualitas bukan dengan cara memperbanyak mahasiswa baru seperti perilaku pukat harimau.” Tutur Andi Surya.

Sebagai contoh, Andi Surya menyebutkan, UIN Raden Intan menerima 6.700 mahasiswa baru, dengan rasio 1:30 ilmu sosial, untuk mahasiwa baru saja UIN Lampung wajib menyediakan dosen 225 dosen baru.

Demikian pula untuk ITERA yang informasinya menerima 2.500 mahasiswa baru, dengan rasio 1:20 ilmu eksakta ITERA harus menyiapkan 125 dosen untuk mahasiswa barunya.

"Saat ini, mahasiswa angkatan lama UIN sejumlah 21.000 orang dengan demikian jika dijumlahkan dengan kebutuhan mahasiswa baru UIN memerlukan 925 dosen. Sementara ITERA dengan jumlah mahasiswa angkatan sebelumnya yang berjumlah 3.500 orang, maka bersama mahasiswa baru diperlukan 400 dosen. Dengan posisi ITERA dan UIN sama-sama perguruan tinggi baru, saya menduga rasio dosen ini belum dapat terpenuhi,” ungkap Andi Surya.

"Jika ini tidak ditertibkan akan berakibat pada kualitas buruk dari produk ITERA dan UIN, yaitu sarjana-sarjana yang diragukan kapasistas dan kompetensinya. Saya akan mengusul Kemenristekdikti melalui L2 DIKTI dan Ditjen Dikti untuk mengaudit kedua PTN ini." Tutur Andi Surya.

Jika audit tidak dilakukan akan mengakibatkan terjadinya penurunan dan buruknya kualitas keluaran PTN-PTN ini yang pada akhirnya akan menyebabkan kerugian orangtua maupun mahasiswa, selain itu tentu secara umum akan mengganggu kualitas SDM Lampung.

“Di samping itu, bisa jadi anggaran negara yang masuk ke PTN ini menjadi tidak efektif alias sia-sia,” ungkap Andi Surya. (tim)