Sandiaga Uno Akui Menggelontorkan Rp1 M Kepada PKS dan PAN

13 Agustus 2018 - 00:57:26 | 7884 | POLITIK

DL/13082018/Jakarta

---- Indonesia mulai menginjak pertarungan politik calon presiden RI, dan makin memanas, terkait munculnya dugaan pemberian mahar politik dari calon wakil presiden Sandiaga Uno kepada dua partai pendukung Prabowo Subianto, yakni Parta Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amant Nasional (PAN).

Adalah Andi Arief, tokoh muda asal Lampung yang berani meneriakkan dugaan ini bukan sekedar isapan jempol, dan mencuitkan di twiternya, yang sontak menjadi viral di kalangan dunia elit politik negeri ini.

Andi yang saat ini menjadi Wasekjen Partai Demokrat menuding PKS dan PAN menerima mahar hingga Rp 500 Milliar dari Cawapres yang saat ini berpasangan dengan Prabowo Subianto yakni Sandiaga Uno.

Bahkan menurut Andi, yang dilansir detik.com edisi Sabtu 11 Agustus 2018, gara-gara pembongkaran tersebut, ia  sempat mendapat ancaman dari PAN dan PKS.

Menurutnya, karena ada ancaman itulah, Andi Arief berani bersuara kepada publik soal mahar. "Saya terpaksa mentuit soal mahar ini karena PAN dan PKS memberi ancaman untuk membawa ke ranah hukum. Saya siap dan kesempatan ini menjelaskan pada publik," tulis Andi Arief di akun Twitternya @AndiArief__, Sabtu (11/8/2018).

Sandiaga Mengakui
Namun kini, rupanya soal kabar mahar itu dibenarkan oleh Sandiaga Uno.  Menurut Sandi, uang yang ia berikan itu akan digunakan untuk kegiatan kampanye Pilpres 2019. 

"Tentunya apa yang menjadi konsennya Pak Andi Arief itu akan menjadi konsen nasional, bahwa ke depan ini harus ada kejelasan, bagaimana sumbernya, bagaimana membiayai kampanye nasional," tutur Sandiaga Uno kepada wartawan, Sabtu 11 Agustus 2018.

Bahkan Sandi berniat mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk berkonsultasi terkait rencana penggunaan dana yang beberapa hari belakang ini dituding sebagai mahar.

Andi Arief menanggapi postingan salah satu portal berita online nasional yang mengabarkan bahwa Sandiaga Uno ini memberikan uang mahar sebanyak Rp 1 Triliun itu untuk dana kampanye.

"Apa yang saya sampaikan itulah yang sebenernya, bukan mengada- ada,"  tulis akun twitter @AndiArief_ .

Berkaca

Usai adanya pengakuan dari Sandiaga Uno sendiri, Andi Arief yang masih geram ini pun menantang para pimpinan PAN dan PKS yang sudah menghujatnya tak perlu meminta maaf.

Yang perlu dilakukan pimpinan PAN dan PKS ini menurut Andi Arief, sangat sederhana, yakni hanya melihat wajah mereka di cermin.

"Soal Mahar entah dalam bentuk penaklukan atau kampanye sudah diakui Sandi Uno, Pimpinan PAN dan PKS yang telah menghujat saya tak perlu minta maaf pada saya, tapi saya anjurkan lihat muka di cermin," cuit Andi Arief.

Meskipun begitu, Andi Arief juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya dengan membongkar ini ke publik adalah demi kebaikan Prabowo sendiri, yang kini kembali mencalonkan diri jadi presiden untuk Pilpres 2019.

"Saya berniat baik, mencegah Pak Prabowo mengambil langkah salah. Jika ini saya teruskan ke ranah hukum, Sandu Uno bisa terindikasi suap karena masih menjabat wagub dan Pimpinan PAN-PKS bisa terlibat. Ini sudah jadi pengetahuan publik," cuitnya lagi.

Andi Arief menjelaskan apabila tujuan mengunggah informasi tersebut adalah agar Prabowo mengetahuinya dan bisa dijadikan pertimbangan dalam memilih cawapres.

"Soal Mahar ke PKS dan PAN masing-masing 500 M ini penjelasan Saya: Sekjen Hinca, Waketum Syarief Hasan dan sekretaris Majelis tinggi partai Amir Syamaudin mendapat penjelasan itu langsung dari tim kecil Gerindra Fadli zon, Dasco, Prasetyo dan Fuad Bawazier 8 Agustus 2018 pk 16.00 wib.

Soal Mahar 500 M masing-masing pada PAN dan PKS itu yang membuat malam itu saya mentuit jendral kardus.” Kata Andi.

Besar harapan saya dan partai Demokrat, Prabowo memilih Cawapres lain agar niat baik tidak rusak.

Tanggal 9 Agustus pagi, pertemuan SBY-Prabowo membahas soal bagaimana kembalikan politik yang baik dan terhormat tanpa mahar.

SBY usulkan Prabowo cari cawapres lain yang bukan Sandi, bukan AHY, bukan Zul hasan, bukan Salim Al jufri seperti permintaan Zul Has agar tokoh netral. Prabowo tetap tak hiraukan usul SBY soal tokoh netral.

“Herannya Zul Has dan Salim Al Jufri juga berubah pendiriannya dari harus figur dari PAN atau PKS atau tokoh netral tiba-tiba sepakat memilih setuju Sandi yang juga dari Gerindra, ada apa?

Semua sudah terjadi, tapi proses ini pubik harus mengerti," tulis Andi Arief. (tim)