PLN Dinilai Belum Pintar Kelola Aset

26 Juli 2018 - 17:29:51 | 7695 | HUMANIORA

DL/26072018/bandarlampung

----- Kondisi kelistrikan di Bandarlampung yang dalam tiga hari terakhir mengalami ketidak stabilan menimbulkan banyak keluhan dari kalangan masyarakat termasuk kalangan usaha di Bandarlampung.

Sebelumnya pernah dirilis tentang surplus daya listrik PLN yang dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Namun tiba-tiba lampu padam di kawasan Bandarlampung bahkan hingga lebih dari 5 jam. Ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan masyarakat.

Sebab secara kontroversi kenyataan ini berbanding terbalik dengan pernyataan PLN tentang surplus daya di kelistrikan Lampung.

Didapat keterangan bahwa Lampung dilakukan Pemadaman Listrik bergilir karena terjadi gangguan pada Saluran Transmisi 150 kV di Baturaja dan gangguan PLTU Sebalang 100 MW.

Mantan personil yang banyak berkiprah pada kelistrikan Lampung, Arief Oemar, menegaskan bahwa ini sangat menyedihkan. “Kondisinya sangat menyedihkan, jangan-jangan ini bisa berkepanjangan. Dan sekaligus membantah keterangan dari PLN Lampung sebelumnya yang menyatakan surplus daya,” katanya Rabu, 25 Juli 2018.

Menurutnya ada tiga masalah yang harus dikritisi secara serius dalam tubuh PLN Lampung. “Pertama personil PLN yang kemampuan tidak memenuhi standar kompetensi, Faktor material seperti mesin, jaringan dan proteksi, lalu soal pengaturan system keandalan,” ujar Arief.

Arief mengisyaratkan bahwa dampak dari pemadaman tiba-tiba itu sangat banyak baik secara social maupun ekonomi dan ini harus dipikirkan oleh PLN. “Ini dampaknya luas, bisa pada rekening tagihan, resiko barang elektronik yang rusak, dan berbagai kerugian masyarakat lainnya.” Ungkapnya.

Akhirnya, masyarakat cuma berharap ada perusahaan listrik lain yang cerdas dan pintar, karena Listrik PLN belum pintar.

PLN Kurang Kontrol

Sementara Fosen, praktisi penyewaan sound system di Bandarlampung mengatakan bahwa kerugian masyarakat atas pemadaman dadakan tentu cukup tinggi. “Gak bisa dipungkiri, listrik sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Semua peralatannya memakai daya listrik. Bayangkan ketergantungan listrik sudah sedemikian tinggi. Akibatnya, kemungkinan terjadi kerusakan elektronik sangat tinggi,” katanya.

Dia sempat mengalami pemadaman mendadak saat sedang menyetel sound system. “Saat masih asyik menyetel sound dan tiba-tiba mati lampu, ini rasanya bikin sakit kepala. Selain kita harus mengulang dari awal, ada risiko alat kita jebol. Dan itu pernah terjadi. Lalu kita komplain kemana?” ujarnya.

“Memang seharusnya ada kompensasi ke masyarakat, kalau kekeliruannya dari PLN, Jangan masyarakat aja yang terus menderita kerugian,” kata Fosen.

Jika demikian, kemungkinkan PLN kurang kontrol terhadap peralatan pembangkitnya. “Ya kontrol PLN mungkin lemah. Harusnya pro aktif mencegah adanya pemadaman bahka black-out satu kota. Padahal pemakaiannya kan jelas, tanggal berapa perawatannya sehingga masalah bisa dicegah sebelum terjadi. Kalau sudah begini gimana dong. Yang dirugikan tetap rakyat kan,” ungkapnya kesal.

Sementara Azahra, seorang karyawati sebuah Bank mengeluhkan bahwa pemadaman listrik mendadak juga mempengaruhi kinerja pada bidang yang banyak bergantung pada listrik. “Kalau yang punya UPS di komputernya ya kemungkinan tidak terlalu kesal, saat pemadaman mendadak. Kalau yang tidak, kan data bisa hilang tuh. Saran saya, PLN harus lebih bijak dan profesional lah. Kalau ada pemadaman harus terjadwal dan diberitahukan sebelumnya.” Kata Zahra. (don)