Fosfat Alam Dongkrak Produksi Jagung di Lahan Masam

22 Juli 2018 - 15:16:36 | 12231 | EKONOMI

DL/22072018/Banjarbaru

---- Kementerian Pertanian sedang mengoptimalkan pengelolaan lahan tadah hujan dan lahan rawa. Masalah utama pengelolaan lahan rawa adalah tata air, kemasam tanah (pH) yang rendah, juga kandungan Aluminium (Al) yang tinggi.

Sementara, pada lahan kering masalahnya adalah kekeringan atau kekurangan air, pH tanah dan kesuburan tanah yang rendah.

“Masalah-masalah tanah tersebut dapat dicari solusinya oleh para peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) antara lain melalui penerapan fosfat alam reaktif,” kata  Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Dr. Muhamad Syakir saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan topik “Aplikasi Fosfat Alam Reaktif di Lahan Masam untuk Jagung” di di Aula Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Rabu 18 Juli 2018. 

Pembangunan pertanian menurut Syakir, tidak semata pada peningkatan produktivitas. Pada hakekatnya pemerintah mendorong bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani.
“Pemupukan yang baik, termasuk penggunaan fosfat alam merupakan langkah strategis dalam melakukan efisiensi dan efektivitas pemupukan,” tutur Syakir.

Produktivitas yang tinggi, lanjutnya, harus dibarengi dengan efisiensi dan efektivitas yang tinggi pula. Pupuk yang menguap, terbawa oleh air, tidak efektif dalam penerapan dapat mencapai 50 persen.

“Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan strategis nasional, karenanya pemerintah terus mendorong produksi dan produktivitas jagung nasional melalui berbagai upaya antara lain inovasi teknologi pemupukan,” ungkap Syakir.

Kepala Balitbangtan menyampaikan pentingnya Bimtek ini dan menekankan agar kerjasama kemitraan perlu terus dijaga dan ditingkatkan baik antara petani dengan pemerintah maupun petani dengan lembaga penelitian.

Kepala BBSDLP, Prof. Dedi Nursyamsi, M. Agr menuturkan, pemberian batuan fosfat alam memasok unsur hara P yang kurang tersedia di tanah masam di Indonesia. Di Indonesia terdapat lebih dari dua pertiga tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah sehingga ketersedian unsur hara N P, K, Ca, dan Mg pada tanah tersebut rendah.

"Batuan fosfat mengandung P, Ca, dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH. Selain itu fosfat alam tidak perlu diolah di pabrik sehingga harga lebih murah," ujar Dedi.

Sejalan dengan Dedi, Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Dr. Husnain menguraikan aspek efisiensi dan efektifitas penggunaan rock fosfat. “Rock phosphate dapat langsung digunakan. Tidak perlu diolah di pabrik terlebih dahulu. Memiliki sifat lepas lambat (slow release), efek residu dapat bertahan 4-5 musim tanam,” tuturnya.

Dalam Bimtek tersebut, Budiono, salah seorang petani jagung sukses asal Pleihari berbagi pengalaman cara budidaya jagung. Pengolahan atau penyiapan lahan sangat berperan penting untuk pertumbuhan tanaman yang baik. 

Budiono berpesan agar menggunakan benih yang baik, pupuk organik yang cukup, menerapkan pola zig-zag, melakukan penyiangan (dangir) dan pembubunan, merawat tanaman dari gulma dan hama penyakit. “Pastikan benih yang kita tanam tumbuh, beri makan sesuai dengan kebutuhan,” paparnya.

Petani asal Kabupaten Tanah Laut, Fikri dan Hendri menyatakan bimtek ini sangat sesuai dengan kebutuhan mereka. “Bimtek hari ini sangat pas dengan kebutuhan kami, karena di kami terdapat lahan masam yang terdiri dari lahan basah juga lahan kering,” ujar Fikri bersemangat. Mereka berharap penerapan Rock Phospate dapat meningkatkan produksi tanaman jagung.

Kegiatan bimtek ini merupakan rangkaian kegiatan dalam kaitannya dengan persiapan demplot farm (denfarm) di lahan masam khususnya di Kalimantan Selatan, baik di lahan kering maupun di lahan basah.

Kepala Balai Penelitian Rawa Pertanian (Balittra), Ir. Hendri Sosiawan, CESA, dalam kesempatan terpisah mengungkapkan kegiatan denfarm akan digelar pada lahan rawa seluas 100 ha, masing-masing 90 ha di Kabupaten Batola, dan 10 ha di lahan gelar teknologi (geltek) Taman Sains Pertanian (TSP) Banjarbaru. Sedangkan di lahan kering dilaksanakan di Kabupaten Pleihari seluas 150 ha, dan 50 ha di Kab. Tanahbumbu. Penanaman jagung akan dimulai pada akhir September 2018 menjelang musim hujan.

Bimtek menghadirkan narasumber Dr. Nuning Agrosubekti (Puslitbangtan), Dr. M. Azrai (Balitsereal), Dr. Husnain (Balittanah),  Ir. Hendri Sosiawan CESA (Balittra), Dr. Sri Rochayati (Balittanah), dan Budiono, S.Pd. (petani jagung sukses).

Acara ini dihadiri 59 orang petani dari Kabupaten Barito Kuala, Pleihari, dan Tanah Laut, penyuluh pertanian lapang, dan para peneliti Balittra, Balittanah, dan BBSDLP. (Sae)