Eit, Ini Warga Bawah Mulai Cerdas

16 Juli 2018 - 20:17:43 | 1809 | HUMANIORA

DL/16072018/Bandarlampung

----- Ternyata, rakyat kecil pun sudah pandai menerima kenyataan bahwa masih ada elit politik di negeri ini yang bertingkah seperti anak kecil. Jika dalam sebuah pertarungan kalah, maka anak itu menangis, bahkan mengamuk.

Dan ternyata pada tataran masyarakat yang dalam kesehariannya disibukkan dengan urusan menambal sulam rumah tangga dengan berbagai pekerjaan keras dan dibilang kasar, masih sempat menilai betapa para politikus tingkat elit selama ini justru sering memberikan contoh negatih ke rakyatnya.

Seperti pengakuan salah satu petugas kebersihan Kota Bandarlampung, Suherman mengaku sebagai warga Lampung menerima hasil Pemilihan Gubernur 2018.

"Sekarang ini gak usah pemilihan pilihan gubernur, pilihan presiden. Sekarang ini DPR aja, pemimpin daerah, perwakilan daerah kalau lagi sidang itu kan suka nyontohin yang gak baik,  kayak anak kecil. Kadang-kadang berantemkan, lucukan. Jadi gak usah dipermasalahin, masing-masing pribadi aja menyadarkan diri," ucap dia Senin, 16 Juli 2018.

Menurutnya, yang kalah dalam Pilgub 2018 harus menerima kekalahannya. "Kalau saya terima aja siapa yang menang. Walau kita milih sana sini sama aja istilahnya. Namanya juga orang banyak, gitu aja. Kita dukung yang ini kalah, ya udah  terima. Sama yang  menang juga harus terima.  Harus legowo kalau kata orang Jawa. Saya pan (kan) orang Jawa. Siapa yang menang ya terima aja.  Yang posisinya berhak memutuskan yang mana, kan sudah ada yang tugasnya memutuskan," ujarnya.

Demo Ngabisin Uang

Menurutnya, siapapun pemenangnya tidak berpengaruh terhadap kehidupannya. "Saya masyarakat biasa, siapa yang menang juga, ya tetap aja saya kerjanya begini-begini aja. Menang kita beli beras sendiri, kalah juga kita tetap beli beras sendiri," tuturnya.

Suherman menerangkan bahwa yang tidak menang bukan karena memang bukan rezekinya. "Di syukuri aja, kalau yang gak menang berarti belum rezekinya," imbuhnya.

Warga Telukbetung ini juga menyayangkan adanya demo yang hanya menghabiskan uang. "Yang demo-demo ya biarin aja, yang modalin berarti ngabis-ngabisin uang, aturan kan bisa buat modal usaha, usaha apa gitu. Jadi gak buang-buang uang untuk demo. Mending (lebih baik-red) dikasih ke saya buat modal usaha saya aja. Mending uangnya dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat," paparnya.

Hal senada dikatakan oleh Bram yang menuturkan tidak masalah siapa saja yang memimpin Provinsi Lampung. "Masalah pemimpin itu siapa saja masih Indonesia inilah ya.  Yang penting itu pemimpinnya jujur ke atas,  jujur ke bawah," ucapnya.

Ia pun tidak mengerti adanya demo-demo di jalanan. "Kami ini masyarakat bawah tidak mengerti apa yang di demo-demo. Tidak setuju adanya demo-demo di Lampung," ujarnya.

Bram yang sehari-hari sebagai pemulung ini menerangkan bahwa demo hanya menghamburkan uang saja. "Demo itukan pakai duit jadi merugikan negara lah.  Mending duitnya dimanfaatkan untuk negara,  daripada dihambur-hamburkan untuk demo,  untuk inilah-itulah," tutupnya

Untuk diketahui, KRLUPB melakukan aksi didepan kantor Sentra Gakkumdu dengan tuntutan menolak hasil Pilgub 2018 selama sidang pemeriksaan pelanggaran administrasi terstruktur, sistematis dan masif (TSM) Bawaslu Provinsi Lampung.

 Direncanakan aksi penolakan Pilgub 2018 dengan meminta pembatalan Arinal - Nunik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung terpilih 2018 hingga 19 Juli 2018. (rel)