Sumarju: Dinsos Berikan Modal Usaha, masyarakat Harus Beri Ruang

11 Juli 2018 - 09:36:56 | 499 | HUMANIORA

DL/11072018/Bandarlampung

---- Masalah sosial tuna susila atau lebih dikenal dengan PSK dulunya hanya di kota-kota besar, pelabuhan dan sekitar industri dan pabrik. Namun kini telah tersebar di berbagai sudut kota bahkan sampai ke sudut desa.

Perbuatan tuna susila bertentangan dengan norma agama, adat istiadat, kesusilaan. Disamping itu juga berdampak negatif dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karena pemerintah daerah bersama masyarakat bersama-sama menekan keberadaannya.

Upaya yang dilakukan Pemprov Lampung yakni dengan melakukan bimbingan dan rehabilitasi sosial sehingga mereka dapat hidup wajar di tengah-tengah masyarakat.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Sumarju Saeni, Senin 9 Juli 2018) pada acara Pembukaan Bimbingan, Rehabilitasi Sosial dan Ketrampilan bagi eks Wanita Tuna Susila di Aula Krida Wisata Bandar Lampung.

“Kami punya tugas untuk membantu dalam bimbingan dan rehabilitasi sosial termasuk modal usaha kecil. Namun tugas selebihnya ada pada masyarakat untuk memberikan ruang gerak yang leluasa bagi mereka setelah terjun dlaam usaha di tengah masyarakat. Jadi semua punya peran membimbing mereka ini,” terang Sumarju.

Kepala Bidang Rehabititasi Sosial, Ratna Fitriani menjelaskan bahwa bimbingan ini diikuti oleh 15 orang eks tuna susila. Mereka nantinya diberikan bantuan modal usaha masing-masing sebanyak Rp3 juta secara hibah murni. “Selama tiga tahun ini sudah ada 65 orang yang telah dibantu modal usaha seperti ini.” Katanya.

Sementara itu menurut relawan sosial sekaligus juga sebagai pendamping eks tuna susila, Rani menginformasikan bahwa sebagian besar modal usaha bermanfaat untuk meningkatkan ekonominya.

"Dengan bantuan modal usaha dari pemerintah teman-teman saya kesejahteraannya meningkat. Modal ini rata-rata dipergunakan usaha dalam perdagangan dan home industry, biasanya produk pangan olahan yang dijajakan setiap hari.” Kata Rani.

Mayoritas berhasil dan berkembang. Namun tetap memerlukan pendampingan bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah melakukan  usaha seperti ini. (Ppid-dinsos)